KOMPAS.com — Jika gempa berkekuatan 7,3 SR di laut lepas Tasikmalaya, Jawa Barat, tak pernah terjadi, mungkin tak akan ada yang tahu kalau tiga unit alat deteksi dini tsunami yang dipasang di sekitar pesisir Cilacap ternyata tak satu pun yang berfungsi. Bahkan, mengeluarkan suara sirine pun tidak.
Ketiga alat itu dipasang di Pantai Teluk Penyu, Widarapayung, dan Tegalkamulyan, atas kerja sama Indonesia dan Jerman di bawah lembaga German-Indonesia Tsunami Early Warning System (GITEWS), sekitar tahun 2008. Dari ketiga alat tersebut, baru satu unit yang dipasang di Pantai Widarapayung dan diuji coba oleh tim ahli dari GITEWS.
Menurut Kepala Sub Bidang Mitigasi Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Cilacap Nakum Wibowo, alat itu baru berfungsi setelah uji coba kedua, sedangkan uji coba pertama tidak berhasil.
Namun, untuk melanjutkan uji coba selanjutnya, Nakum mengaku, pihaknya tak mampu melaksanakannya karena pengoperasian alat itu cukup rumit. Menurutnya, dibutuhkan tenaga khusus yang telah dilatih untuk mengoperasikannya, dan sampai saat ini belum ada yang mampu untuk itu.
"Kami sudah meminta pelatihan kepada GITEWS supaya kami punya orang yang ahli untuk mengoperasikan alat ini, tapi sampai sekarang belum direalisasikan. Katanya, tim ahli GITEWS itu sedang sibuk," katanya, Kamis (3/9).
Karena alat itu dirasa vital untuk memberikan peringatan dini tsunami di Pantai Widarapayung, akhirnya aparat Desa Widarapayung Wetan dan dinas terkait pernah beberapa kali ikut mencoba mengoperasikannya. Setelah beberapa kali dicoba dioperasikan, menurut salah seorang anggota tim search and rescue Widarapayung, lampu pada alat itu malah mati.
"Karena diutak-utik, utak-utik, akhirnya lampu alat itu mati. Sepertinya juga tidak bisa berfungsi lagi," ujarnya.
Untuk mengoperasikan sendiri, Martoyo mengaku tidak mampu karena bahasa yang digunakan pada alat itu adalah bahasa Inggris. "Bahasanya asing, saya tidak mengerti, apa itu bahasa Jerman atau bahasa Inggris. Sukar," ucapnya.
Giyo (50), seorang penjaga alat deteksi dini tsunami di Pantai Teluk Penyu juga mengaku tak pernah melihat ada perubahan pada alat tersebut. "Hanya kelihatan lampu power-nya saja yang menyala. Selebihnya tak pernah ada apa-apa dengan alat ini, tetapi tetap disambungkan ke listrik biar lampunya nyala," katanya.
Bagi nelayan Pantai Teluk Penyu, alat deteksi dini tsunami seperti menara dipasang sepatutnya, tetapi tak ada gunanya. "Lah, sirenenya bunyi saja tidak. Cuma menaranya saja yang keliatan," ucap Poniman (52).
Namun, untuk mengantisipasi ancaman tsunami, Poniman mengaku, pasca-gempa hampir seluruh nelayan mengamati pergerakan air laut sebagai tanda awal ancaman gelombang tsunami. Sejumlah nelayan yang masih berada di tengah laut pun dipanggil untuk segera pulang. "Sampai hari Kamis ini pun, sebagian besar nelayan tak ada yang melaut karena masih takut," katanya.
Selain alat deteksi dini tsunami, sejumlah radio transmisi hasil bantuan pemerintah juga tak berfungsi. Radio itu sedianya digunakan untuk komunikasi antar-daerah guna menyebarkan informasi dini bencana tsunami, baik yang ada di Kantor BPBD Cilacap maupun Pantai Ayah.
Dua unit radio transmisi yang ada di Kantor BPBD, hanya tampak satu unit yang menyala lampunya. Adapun satu unit lagi tidak dioperasikan. Menurut Nakum, kedua radio itu pernah beberapa kali diuji coba, tetapi setelah itu tidak pernah lagi.
"Kami tak memiliki tenaga untuk memantau informasi terkini soal tsunami lewat radio. Makanya radio ini belum berfungsi optimal," katanya memberikan alasan.
Sementara itu, satu radio transmisi yang dipasang di Pantai Ayah, menurut Martoyo yang bertugas dari Pantai Widarapayung hingga Pantai Ayah di Kebumen, sudah beberapa bulan ini tak berfungsi. "Sampai sekarang, belum ada yang memperbaiki radio itu," ujarnya.
Antisipasi bencana tsunami di Cilacap dengan memanfaatkan teknologi canggih pada akhirnya masih tetap gelap. Baik masyarakat maupun pemerintah setempat masih gagap mengoperasikan teknologi baru pendeteksi dini tsunami. Masyarakat pesisir Cilacap pun kembali mengamati tanda-tanda yang diberikan alam, yakni mengamati pergerakan air laut sebagai tanda awal gelombang tsunami.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang