Ikut Ekskul Tradisional, Enggak?

Kompas.com - 04/09/2009, 10:41 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Anggapan siswa-siswi SMA abai terhadap kesenian tradisional ternyata tak selamanya benar. Mereka sangat tertarik ekskul kesenian tradisional. Seni tradisional juga tak identik dengan suku tertentu, misalnya gamelan Jawa selalu disukai orang Jawa.

”Saya dari suku Batak, tapi suka karawitan. Saya sudah ikut ekskul gamelan Bali, ekskul gamelan Jawa, juga ekskul kolintang,” kata Ollyanda Assabel dari SMA Santa Ursula, Bumi Serpong Damai, Tangerang.

Kata Ollyanda, anak muda justru antusias dengan hal-hal yang sifatnya unik. ”Malah enggak terasa jadul kok, kita ngerasanya ini justru menarik, sambil melestarikan budaya sendiri. Para penonton yang menyaksikan juga pasti kagum melihat teman-temannya bisa melakukan sesuatu yang mereka enggak bisa,” katanya.

”Anak muda enggak peduli budaya sendiri? Hmm mungkin itu cuma beberapa orang. Anak muda justru antusias dengan musik tradisional asli atau karawitan kok,” tambahnya.

Lalu, apakah yang enggak ikut ekskul tradisional berarti tak cinta budaya lokal?

”Saya enggak ikut ekskul tradisional karena memang enggak punya bakat seni. Tapi ini bukan karena saya tidak cinta seni tradisional,” kata Nadia dari SMAN 24 Bandung yang punya ekskul angklung.

Rafini Rahmadini dari SMA Al-Azhar 1 Jakarta, yang ikutan ekskul Tari Saman, mengatakan, cinta budaya memang wajib. Cinta budaya bisa diwujudkan dengan ikut ekskul tradisional agar tak lagi sepi peminat. Ini aksi yang mudah dilakukan, jadi tak perlu hujat-menghujat bangsa lain.

”Tapi, untuk urusan caci maki ke Malaysia karena mengklaim budaya kita, saya enggak ikutan. Lagian, itu juga salah kita sendiri, kenapa enggak melestarikannya dengan baik? Kenapa pemerintah enggak mematenkan, ya?” katanya.

Disadari atau enggak, pemerintah memang tak gencar mempromosikan aset budaya kita ke dunia, sedangkan Malaysia begitu bernafsu menjadi Asia yang sebenar-benarnya.

Budaya kita banyak yang mati suri karena sepi peminat di negeri sendiri, sedangkan di negeri orang dikagumi, dipromosikan, dan dieksploitasi secara komersial.

Jika kita terus menyalahkan orang lain, kapan mau berbenah sendiri? Eh, ikutan ekskul karawitan, yuk! (Kompas Muda)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau