Kasus transfer pemain muda

Italia Berontak, Minta Klub Inggris Diberangus

Kompas.com - 07/09/2009, 04:12 WIB

ROMA, KOMPAS.com - Klub-klub Italia kompak menentang "pencurian" pemain-pemain muda mereka oleh tim-tim Liga Inggris. Mereka berharap agar UEFA mengeluarkan aturan baru yang dapat menghentikan praktik bawah tangan tersebut.

Italia merupakan salah satu ladang subur bagi pemain-pemain besar dunia. Klub-klub Premier League pun menebarkan pencari bakat untuk menjemput dan membawa mereka ke Inggris.

Akibatnya, klub-klub Serie A seperti AS Roma dipaksa kehilangan pemain didikan mereka seperti Davide Petrucci, yang digondol oleh Manchester United. Juara Liga Inggris itu sebelumnya membuat berang Lazio karena menyerobot Federico Macheda. Pemain Parma, Arturo Lupoli dan Giuseppe Rossi pun sempat dibawa ke Inggris sebelum mereka memasuki usia matang.

"(Mantan pelatih Roma) Luciano Spalletti pernah memperingatkan (pelatih MU) Sir Alex Ferguson dan memintanya untuk menghentikan transfer Petrucci," ujar Direktur Roma, Bruno Conti.

"Ferguson membalas dia akan melakukan sesuatu, tapi kami tidak pernah mendengarnya lagi. United masih menggunakan cara ini, itu tidak jantan dan Ferguson tidak bertindak secara jantan," tambahnya.

Kekecewaan yang sama juga menghinggapi Direktur Empoli, Giuseppe Vitale. Vitale merasa timnya menjadi korban MU ketika mereka kehilangan pemain 16 tahun, Alberto Massacci, dan Manuel Pucciarelli (18) bulan lalu. Vitale berharap agar Presiden UEFA, Michel Platini, bertindak tegas memerangi masalah ini.

"Kami tidak senang. Manchester United sering melakukan cara ini karena mereka tahu regulasi di Italia, di mana kami tidak boleh memungut pemain muda dengan kontrak komersial," kata Vitale kepada Sunday Mail.

"Mereka tidak bicara kepada kami soal pemain kami. Itu tidak benar dan mereka tahu itu tidak benar. Platini harus mengubah peraturan sehingga ketika klub besar mencoba merampok - dan ini kata yang tepat - kami atas pemain kami, mereka harus membayar kami dengan harga pantas," tegasnya.

Reggina juga menjadi salah satu korban klub Inggris. Mereka tak akan pernah melupakan Chelsea yang menjemput defender 15 tahun Vincenzo Camilleri dengan helikopter di tempat latihan.

"Saya rasa FIFA dan UEFA sebaiknya selalu menghukum klub seperti Chelsea yang mencuri pemain dari tim yang lebih kecil," tegas Presiden Pasquale Foti di situs News of the World.

"Dalam kasus Chelsea, arogansi mereka terlihat jelas. Terhadap kasus Kakuta, saya dapat dengan mudah melihat prosedur yang sama yang mereka gunakan terhadap kami. Harus ada yang menyetop Chelsea dan semua klub yang mengikuti strategi yang sama," tambahnya.

Saat ini tim-tim Inggris masih tetap bergerilya mencari pemain-pemain muda dari seantero dunia. Mereka berkilah, transfer yang mereka lakukan sudah seizin orangtua pemain dan hal itu dibenarkan oleh peraturan FA. (FBI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau