Pasukan Asing Serbu Rumah Sakit di Afganistan

Kompas.com - 07/09/2009, 04:29 WIB

KABUL, KOMPAS.com-Sebuah badan bantuan Swedia menyatakan, Minggu (6/9), pasukan asing memasuki rumah sakit mereka di Afganistan, menghancurkan pintu dan mengikat staf dan keluarga pasien.

Komite Swedia untuk Afganistan (SCA) menyatakan, pasukan memasuki rumah sakit di Shaniz di provinsi Wardak sebelah selatan Kabul pada Rabu larut malam tanpa memberikan alasan.

"Mereka memeriksa semua ruangan, bahkan kamar mandi, bangsal-bangsal pria dan wanita," kata SCA dalam sebuah pernyataan di situs beritanya, mengutip direktur wilayah itu Anders Fange. "Ruangan-ruangan yang dikunci dimasuki secara paksa dan pintu-pintu bangsal malnutrisi dan bangsal ultrasound dihancurkan agar mereka bisa masuk," katanya dilansir AFP.

"Setelah masuk rumah sakit, mereka mengikat empat pegawai dan dua anggota keluarga pasien. Staf SCA serta para pasien, bahkan orang-orang yang berada di ranjang, dipaksa ke luar ruangan (dan) bangsal selama pemeriksaan itu," tambah pernyatan itu.

SCA, yang menyebut insiden itu tidak bisa diterima, mengatakan, tindakan militer itu merupakan "pelanggaran jelas atas prinsip-prinsip kemanusiaan yang diakui secara global mengenai kesucian staf dan fasilitas kesehatan di daerah konflik".

Badan bantuan itu juga mengatakan bahwa tindakan tersebut melanggar perjanjian sipil-militer antara organisasi-organisasi non-pemerintah dan Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO.

Insiden itu berlangsung dua jam, dan setelah itu pasukan "mengeluarkan perintah lisan" agar pasien yang mungkin gerilyawan dilaporkan kepada pasukan koalisi.

Seorang jurubicara ISAF mengatakan, pihaknya belum memiliki informasi mengenai hal itu sampai penyelidikan selesai dilakukan.

Terdapat sekitar 100.000 prajurit internasional, terutama dari AS, Inggris dan Kanada, yang ditempatkan di Afganistan untuk membantu pemerintah Presiden Hamid Karzai mengatasi pemberontakan yang dikobarkan sisa-sisa Taliban.

Serangan-serangan Taliban terhadap aparat keamanan Afganistan serta pasukan asing meningkat dan puncak kekerasan terjadi hanya beberapa pekan menjelang pemilihan umum presiden dan dewan provinsi pada 20 Agustus.

Taliban, yang memerintah Afganistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau