KABUL, KOMPAS.com-Sebuah badan bantuan Swedia menyatakan, Minggu (6/9), pasukan asing memasuki rumah sakit mereka di Afganistan, menghancurkan pintu dan mengikat staf dan keluarga pasien.
Komite Swedia untuk Afganistan (SCA) menyatakan, pasukan memasuki rumah sakit di Shaniz di provinsi Wardak sebelah selatan Kabul pada Rabu larut malam tanpa memberikan alasan.
"Mereka memeriksa semua ruangan, bahkan kamar mandi, bangsal-bangsal pria dan wanita," kata SCA dalam sebuah pernyataan di situs beritanya, mengutip direktur wilayah itu Anders Fange. "Ruangan-ruangan yang dikunci dimasuki secara paksa dan pintu-pintu bangsal malnutrisi dan bangsal ultrasound dihancurkan agar mereka bisa masuk," katanya dilansir AFP.
"Setelah masuk rumah sakit, mereka mengikat empat pegawai dan dua anggota keluarga pasien. Staf SCA serta para pasien, bahkan orang-orang yang berada di ranjang, dipaksa ke luar ruangan (dan) bangsal selama pemeriksaan itu," tambah pernyatan itu.
SCA, yang menyebut insiden itu tidak bisa diterima, mengatakan, tindakan militer itu merupakan "pelanggaran jelas atas prinsip-prinsip kemanusiaan yang diakui secara global mengenai kesucian staf dan fasilitas kesehatan di daerah konflik".
Badan bantuan itu juga mengatakan bahwa tindakan tersebut melanggar perjanjian sipil-militer antara organisasi-organisasi non-pemerintah dan Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO.
Insiden itu berlangsung dua jam, dan setelah itu pasukan "mengeluarkan perintah lisan" agar pasien yang mungkin gerilyawan dilaporkan kepada pasukan koalisi.
Seorang jurubicara ISAF mengatakan, pihaknya belum memiliki informasi mengenai hal itu sampai penyelidikan selesai dilakukan.
Terdapat sekitar 100.000 prajurit internasional, terutama dari AS, Inggris dan Kanada, yang ditempatkan di Afganistan untuk membantu pemerintah Presiden Hamid Karzai mengatasi pemberontakan yang dikobarkan sisa-sisa Taliban.
Serangan-serangan Taliban terhadap aparat keamanan Afganistan serta pasukan asing meningkat dan puncak kekerasan terjadi hanya beberapa pekan menjelang pemilihan umum presiden dan dewan provinsi pada 20 Agustus.
Taliban, yang memerintah Afganistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang