Kisah Sukses Pemburu Harta Karun di Sungai Musi

Kompas.com - 08/09/2009, 09:16 WIB

SUKSES Bana (38) mengubah hidup dari buruh bangunan biasa menjadi orang kaya menginspirasi warga Lorong Gumarang mengikut jejaknya. Tidak hanya orang dewasa, anak remaja juga tertarik ikut menyelam meski tidak ada kemampuan.

Ibrahim (40), Ketua RT 16 Rw 01 menuturkan, tidak semua penyelam di kampung itu bersedia menularkan ilmunya pada orang lain secara sukarela. Akibatnya, keluarga Ibrahim pernah dibuat panik saat salah seorang keponakannya tertarik mencari benda berharga di Sungai Musi.

“Orang tuanya kurang setuju. Tapi, keponakan saya nekat belajar tanpa didampingi penyelam mahir,” kata Ibrahim di lokasi pencarian benda-benda berharga di Sungai Musi pekan lalu.

Yang dilakukannya memang nekat. Keponakan Ibrahim itu naik ke perahu dan memasang perlengkapan menyelam, seperti alat bantu pernapasan dari kompresor yang terhubung lewat selang. Agar tubuhnya tenggelam sampai ke dasar sungai, ia mengikatkan besi pemberat di pinggang.

Penyelam ahli tak lagi menggunakan besi ini karena mampu mengatasi derasnya arus di bawah sungai di kedalaman sampai 15 meter. Nahas bagi keponakan Ibrahim, ia lupa mengikatkan tali yang bakal membantunya naik ke permukaan setiap saat sesuai dengan kedalaman sungai.

“Dia menyelam dan mengalami masalah. Tali itu ditarik tapi mengulur terus ke bagian ujung. Keponakan saya sampai pingsa. Telinganya keluar darah. Untung masih selamat,” ujar Ibrahim.

Eksistensi para penyelam dari Kampung Gumarang dimulai tujuh tahun lalu. Waktu itu jumlah mereka sedikit dan lebih fokus mencari balok kayu, seperti tembesu yang satu kubiknya dapat dijual ratusan ribu. Mereka menyelam dari kawasan 35 Ilir sampai Pulau Kemaro, dan hanya dalam waktu dua tahun tak tersisa kayu di dasar sungai.

Sama seperti kayu, pada awalnya banyak besi bekas kemudian menipis pula. Wilayah pencarian lebih sempit dari 30 Ilir sampai Boombaru di sisi Seberang Ilir. Sisi Seberang Ulu jarang diselami karena perahu labuh jangkar menggangu lalulintas perahu ketek.

Yanto, salah seorang penyelam, mengatakan, besi yang mereka peroleh kian berkurang. Jika biasanya dapat 100 kg sehari, sekarang dapat 50 kg sudah lumayan. Jika biasa bagi hasil per orang bawa pulang Rp 100 ribu, sekarang Rp 50 ribu sudah lumayan.

“Susahnya lagi timah pancing sekarang tak laku lagi. Padahal ini cukup membantu karena harganya Rp 20 ribu sekilo Kg. Koin-koin yang kami dapat masuk ke penjualan kuningan Rp 25 ribu sekilo,” katanya. Uang tambahan didapat dari penemuan kepingan emas tipis seperti seng yang ukurannya seujung kuku saja.

Menurut Yanto, kalau lagi hoki bisa terkumpul satu gram sehari tapi biasanya baru terkumpul dua sampai tiga hari. Emas ini dikumpulkan dan dijual ke pedagang perhiasan emperan seharga Rp 150 ribu - Rp 240 ribu per gram. Dalam kondisi seperti itu, wajar kalau Yanto dan rekan-rekan berharap mendapatkan benda berharga seperti arca yang menghebohkan itu.

Ketika mendengar kabar ada kapal dagang VOC yang karam abad 18 lalu, mereka semangat hendak mencari. Dalam pertemuan di Pos Polair 30 Ilir, para penyelam sempat mendesak Aryandini Novita, peneliti dari Balai Arkeologi Palembang memberikan katalog keramik untuk membedakan mana yang antik dan tidak.

“Supaya kami tahu harganya. Saya banyak dapat keramik dan masih tersimpan di rumah. Bingung mau jual kemana,” kata Hakim.

Kolektor benda antik, Mir Senen, mengatakan, ia cukup banyak mengoleksi keramik yang ditemukan penyelam dari Sungai Musi. Harganya kisaran Rp 50 ribu sampai Rp 5 juta bergantung umur dan nilai historis. “Paling mahal jenis porselen peninggalan dinasti Cina. Tapi kebanyakan yang ditemukan di Sungai Musi itu gerabah,” katanya.

Kampung Gumarang letaknya bukan di tepi Sungai Musi. Warga dari rumah hendak ke laut (sebutan untuk kawasan pinggir sungai, red) menyusuri jalan setapak dan menyeberangi Jl Pangeran Sido Ing Lautan. Siang hari kampung sepi karena penyelam tradisional turun ke sungai sejak pukul 09.00 dan baru pulang menjelang magrib. Ibu-ibu tak banyak kegiatan sepanjang hari dan anak-anak mereka asyik bermain caingkling di jalan setapak cor beton yang dicoreti kapur.

Pemukiman penduduk didominasi rumah-rumah panggung kayu yang kebanyakan sudah lapuk dimakan usia. Peneliti Balar Palembang, Retno Purwanti, mengatakan, di Sungai Musi bisa dipastikan banyak benda berharga peninggalan masa Kerajaan Sriwijaya. Retno mengirimkan pesan lewat ponsel setelah membaca berita isu penemuan arca itu di media.

“Di tempat itu tahun 1994 pernah ditemukan kepala arca perunggu berlapis emas.” begitu pesan singkatnya. (aang hamdani)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau