NATO Akui Ada Warga Sipil Tewas dalam Serangan di Kunduz

Kompas.com - 08/09/2009, 22:10 WIB

KABUL, KOMPAS.com- Pemimpin tentara asing di Afghanistan mengakui bahwa rakyat tewas atau luka akibat serangan udara NATO di Kunduz, provinsi utara, Jumat lalu. Demikian kata pasukan sekutu itu pada Selasa.

"Sesudah mengunjungi tempat pemboman, Jenderal Stanley McChrystal memutuskan bahwa penduduk tewas atau luka akibat serangan itu", kata Pasukan Bantuan Keamanan Asing (ISAF) pimpinan Persekutuan Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

McChrystal memerintahkan Mayor Jenderal CS Sullivan dari Kanada memimpin penyelidikan atas pemboman itu, yang pejabat Afghanistan katakan menewaskan 54 orang, sebagian besar pejuang Taliban.

Serangan itu dilaporkan diperintahkan seorang panglima Jerman sesudah pejuang Taliban membajak dua truk bahan bakar di jalur perbekalan NATO dari Tajikistan. Ketika salah satu truk itu mogok di sungai, Taliban memanggil warga desa untuk mengambil bahan bakar tersebut.

"Karena yakin penduduk tidak ada di daerah itu, panglima daerah ISAF tersebut mengizinkan serangan udara, yang menghancurkan kedua truk bahan bakar itu," kata pernyataan ISAF.

"Peninjauan kembali membuat ISAF percaya bahwa selain pejuang, penduduk juga tewas dan luka akibat serangan itu," katanya. Penyelidikan NATO akan berlangsung beberapa pekan dan hasilnya akan dibahas bersama dengan petinggi Afganistan dan Jerman.

Persaingan pernyataan muncul tentang jumlah korban tewas dan angka penduduk kehilangan nyawa akibat pemboman itu, dengan Taliban menyatakan 79 warga tewas.

Pemerintah Kunduz menyatakan enam penduduk termasuk di antara ke-54 yang tewas akibat pemboman itu, sementara kantor Presiden Hamid Karzai mengatakan bahwa 90 orang tewas dan luka.

Kementerian pertahanan Jerman pada Senin menyatakan tentaranya  kuatir Taliban memakai truk bahan bakar itu sebagai bom bergerak untuk membunuh tentara pemerintah Afganistan dan Jerman dan menyebut serangan itu "secara ketentaraan perlu dan benar".

Jerman baru memulai penempatan besar tentara di luar negeri sedasawarsa lalu, melanggar tabu pasca-perang, dan serangan udara itu menggerakkan yang sudah tak disukai dalam agenda menjelang pemilihan umum pada 27 September.

Kanselir Jerman Angela Merkel pada Selasa menyatakan secara "mendalam menyesalkan" kematian rakyat tak berdosa di Afganistan. Taliban pada minta masyarakat dunia menyelidiki tuntas serangan udara NATO tersebut dan mencap kejadian itu kejahatan.

Pernyataan Taliban, yang dikirim melalui surat maya, mendaftar nama, usia, alamat dan pekerjaan 79 warga, termasuk sekitar 20 anak-anak, yang paling muda berusia delapan tahun, yang mereka nyatakan tewas dalam serangan itu.

Taliban lalu minta hakim antarbangsa di Pengadilan Kejahatan Antarbangsa di Denhaag bertindak, dengan menyatakan "rasa malu akan ada pada mereka" jika mereka gagal mencari "penjahat perang berkenaan dengan peristiwa Kunduz".

"Bagi kami, kejadian di Kunduz akan menunjukkan apakah dakuan antarbangsa mengenai pembela hak asasi manusia kenyataan atau hanya tipu-daya," kata pernyataan itu.

Taliban, yang memerintah Afganistan sejak 1996, mengobarkan perlawanan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh serbuan pimpinan Amerika Serikat pada 2001, karena menolak menyerahkan pemimpin Alqaida Osama bin Ladin, yang dituduh bertanggungjawab atas serangan di wilayah nega

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau