Demi Argentina, Riquelme-Maradona Harus Berdamai

Kompas.com - 09/09/2009, 01:55 WIB

BUENOS AIRES, KOMPAS.com — Wakil Presiden Boca Juniors Juan Carlos Crespi akan mendorong Juan Roman Riquelme supaya mau kembali ke Tim Nasional Argentina. Ia berharap, nantinya, Pelatih Argentina Diego Maradona dan Riquelme bisa melupakan perseteruan mereka dan bahu-membahu demi meloloskan Argentina ke Piala Dunia 2010 Afrika Selatan.

Pada Maret lalu, Riquelme meninggalkan timnas. Penyebabnya, bukan karena ia sudah tak mampu, melainkan karena tidak cocok dengan metode latihan dan kepemimpinan Maradona. Entah karena faktor Riquelme atau bukan, yang jelas, performa Argentina merosot setelah itu. Salah satu yang terparah adalah ketika mereka dikandaskan Brasil 1-3 dalam lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, Minggu (6/9).

Kekalahan tak cuma merusak harga diri Argentina, tetapi juga membuat mereka terancam gagal lolos putaran final. Saat ini, Argentina berada di peringkat empat klasemen kualifikasi Piala Dunia Zona Amerika Selatan dengan 22 poin atau hanya unggul dua angka dari Kolombia dan Ekuador di peringkat kelima dan keenam. Dengan sisa tiga laga, Argentina masih mungkin kehilangan posisinya.

Atas kegagalan itu, masyarakat Argentina lantas menolehkan wajah kepada Maradona sebagai pihak yang dinilai paling bertanggung jawab. Sejauh ini, memang tak ada seruan meminta Maradona mundur. Namun, mereka meminta Maradona melakukan segalanya untuk mengembalikan derajat sepak bola Argentina.

Riquelme kemudian dipandang sebagai solusi Argentina. Keterampilan dan pengalamannya dinilai akan menjaga keseimbangan tim yang saat ini banyak diisi pemain-pemain muda. Bersamanya, Lionel Messi dan Sergio "Kun" Aguero bisa tampil lebih tenang dan percaya diri.

Crespi setuju dengan pandangan itu. Ia pun siap memberi segala bantuan untuk memastikan Argentina tampil di Piala Dunia, termasuk membujuk Riquelme untuk berdamai dengan Maradona dan kembali ke timnas. Ia juga akan meminta Maradona untuk bersikap lebih bijaksana dalam menentukan kebijakan tim. Baginya, semua pihak, termasuk Maradona sekalipun, harus bisa melupakan urusan pribadi demi Argentina.

"Timnas bukanlah milik mereka (Maradona dan Riquelme), melainkan seluruh warga Argentina. Semua proyek untuk mencapai target ini akan mendapat tempat. Kami harus membujuk mereka untuk bersatu karena Maradona dan Riquelme memiliki obligasi untuk masuk ke timnas," ujar Crespi seperti dikutip Radio El Mundo.

"Keduanya dibutuhkan. Mereka harus melupakan prasangka mereka. Semua orang Argentina harus meyakinkan Maradona bahwa Roman dibutuhkan untuk tim ini karena Anda tak bisa membeli pengalaman di pinggir jalan," lanjutnya.

Crespi mengingatkan, kekalahan Argentina dari Brasil muncul karena kesombongan Argentina sendiri. Ia dan semua warga Argentina tak ingin kesombongan Maradona atau Riquelme membuat Argentina gagal tampil di Afrika Selatan. Menurutnya, kekalahan dari Brasil akan sia-sia bila Argentina tak bisa memetik pelajaran apa-apa.

"Melawan Brasil, kami kehilangan kerendahan hati. Jurnalis, para direktur (Federasi Sepak Bola Argentina), pendukung, dan setiap orang terpengaruh untuk menjadikan duel itu sebagai yang terbesar abad ini. Namun, (hasilnya) tak seperti itu. Argentina akan lolos dan kekalahan dari Brasil hanya akan menjadi masa lalu yang buruk," tandasnya. (REM)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau