KOMPAS.com - Menggunungnya laporan kecurangan pemilihan umum presiden di Afganistan, 20 Agustus lalu, akhirnya membuat Amerika Serikat maupun PBB tidak bisa lagi berdiam diri. Pada pertemuan antara Duta Besar AS untuk Afganistan Karl Eikenberry dan Presiden Afganistan Hamid Karzai, Senin (7/9) malam, Dubes AS itu pun akhirnya mendesak Karzai untuk mengizinkan Komisi Pemilu Independen (IEC) melakukan penyelidikan menyeluruh atas berbagai kecurangan itu. IEC diharapkan bisa menetapkan suara mana yang sah dan kemudian menerapkan standar yang sangat tinggi untuk menetapkan suara mana yang bisa dihitung. AS sebelumnya cenderung untuk tidak mencampuri proses maupun hasil pemilu Afganistan, tetapi dampak buruk dari pemilu itu telah membuat keamanan di seluruh Afganistan cenderung memburuk. Utusan khusus PBB untuk Afganistan, Kai Eide, Selasa (8/9), juga menyerukan agar IEC melipatgandakan upayanya untuk memastikan keabsahan hasilnya. ”Integritas pemilu ini merupakan hal paling penting bagi Afganistan dan mitra-mitra internasionalnya. Saya berharap banyak pada IEC dan Komisi Pengaduan Pemilu (ECC) untuk melaksanakan tugasnya dengan standar yang tinggi, untuk memastikan bahwa hasil akhirnya sungguh-sungguh merefleksikan keinginan para pemilih Afganistan,” ungkap Eide. AS dan PBB sebagai ”pelindung” utama Afganistan memang tidak bisa lagi berdiam diri ketika laporan kecurangan benar-benar mengancam hasil pemilu Afganistan itu. Sedikitnya 200.000 suara sejauh ini telah dinyatakan tidak sah karena mengandung unsur kecurangan. Sebanyak 650 laporan kecurangan besar pun telah disampaikan ke ECC. Kisruh akibat hasil sementara pemilu itu saja sudah membuat suasana politik di Afganistan bertambah panas, yang kemudian berimbas pada semakin buruknya keamanan di negara itu. Sejumlah serangan dan aksi kekerasan, yang terutama diklaim dilakukan Taliban, bahkan semakin sering menyentuh ”jantung” ibu kota Kabul. Seorang diplomat senior Barat bahkan mengungkapkan bahwa mayoritas kertas suara dari tiga provinsi, yaitu Kandahar, Paktika, dan Khost, adalah hasil dari kecurangan dan semuanya sangat memihak kandidat incumbent Hamid Karzai. Hasil sementara ini menunjukkan Karzai memimpin dengan 48,6 persen dukungan, sedangkan pesaing terkuatnya, Abdullah Abdullah, mendapat 31,7 persen dukungan. Apa pun hasil akhirnya, pemilu Afganistan berpotensi hanya akan semakin menghancurkan keamanan di negara itu jika kecurangan dalam pemilu tidak segera diselesaikan. Pihak yang kalah dan tidak puas tentu akan menjadi lawan baru bagi pemerintahan Afganistan, sekaligus pasukan asing yang mendukungnya.