Pemilu yang Semakin Merusak Keamanan

Kompas.com - 09/09/2009, 05:45 WIB
 
 

KOMPAS.com - Menggunungnya laporan kecurangan pemilihan umum presiden di Afganistan, 20 Agustus lalu, akhirnya membuat Amerika Serikat maupun PBB tidak bisa lagi berdiam diri.

Pada pertemuan antara Duta Besar AS untuk Afganistan Karl Eikenberry dan Presiden Afganistan Hamid Karzai, Senin (7/9) malam, Dubes AS itu pun akhirnya mendesak Karzai untuk mengizinkan Komisi Pemilu Independen (IEC) melakukan penyelidikan menyeluruh atas berbagai kecurangan itu. IEC diharapkan bisa menetapkan suara mana yang sah dan kemudian menerapkan standar yang sangat tinggi untuk menetapkan suara mana yang bisa dihitung.

AS sebelumnya cenderung untuk tidak mencampuri proses maupun hasil pemilu Afganistan, tetapi dampak buruk dari pemilu itu telah membuat keamanan di seluruh Afganistan cenderung memburuk.

Utusan khusus PBB untuk Afganistan, Kai Eide, Selasa (8/9), juga menyerukan agar IEC melipatgandakan upayanya untuk memastikan keabsahan hasilnya. ”Integritas pemilu ini merupakan hal paling penting bagi Afganistan dan mitra-mitra internasionalnya. Saya berharap banyak pada IEC dan Komisi Pengaduan Pemilu (ECC) untuk melaksanakan tugasnya dengan standar yang tinggi, untuk memastikan bahwa hasil akhirnya sungguh-sungguh merefleksikan keinginan para pemilih Afganistan,” ungkap Eide.

Ancam Afganistan

AS dan PBB sebagai ”pelindung” utama Afganistan memang tidak bisa lagi berdiam diri ketika laporan kecurangan benar-benar mengancam hasil pemilu Afganistan itu.

Sedikitnya 200.000 suara sejauh ini telah dinyatakan tidak sah karena mengandung unsur kecurangan. Sebanyak 650 laporan kecurangan besar pun telah disampaikan ke ECC.

Kisruh akibat hasil sementara pemilu itu saja sudah membuat suasana politik di Afganistan bertambah panas, yang kemudian berimbas pada semakin buruknya keamanan di negara itu. Sejumlah serangan dan aksi kekerasan, yang terutama diklaim dilakukan Taliban, bahkan semakin sering menyentuh ”jantung” ibu kota Kabul.

Seorang diplomat senior Barat bahkan mengungkapkan bahwa mayoritas kertas suara dari tiga provinsi, yaitu Kandahar, Paktika, dan Khost, adalah hasil dari kecurangan dan semuanya sangat memihak kandidat incumbent Hamid Karzai.

Hasil sementara ini menunjukkan Karzai memimpin dengan 48,6 persen dukungan, sedangkan pesaing terkuatnya, Abdullah Abdullah, mendapat 31,7 persen dukungan.

Apa pun hasil akhirnya, pemilu Afganistan berpotensi hanya akan semakin menghancurkan keamanan di negara itu jika kecurangan dalam pemilu tidak segera diselesaikan. Pihak yang kalah dan tidak puas tentu akan menjadi lawan baru bagi pemerintahan Afganistan, sekaligus pasukan asing yang mendukungnya. (AP/CNN/OKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau