Tiga Situ Yang Dikuasai Warga Dibebaskan

Kompas.com - 09/09/2009, 09:45 WIB

BEKASI, KOMPAS.com - Tiga situ di Kota Bekasi yang dikuasai warga setempat akan dibebaskan dan selanjutnya akan difungsikan menjadi kantong air yang dapat digunakan sebagai penampung air ketika musim penghujan tiba.

Kepala Bidang Tata Air Dinas Bina Marga dan Tata Air, Kota Bekasi, Ir H Yurizal, di Bekasi, Rabu (9/9) mengatakan, telah membuat surat ke Wali Kota Bekasi terkait rencana pembebasan tiga situ tersebut dan dananya dialokasikan melalui APBD 2010.

Situ yang potensial untuk menjadi kantong air tersebut misalnya Situ Rawa Lumbu dengan luas 1,5 hektare dan satu lagi Situ Wong.

Rencananya ketiga situ itu setelah dibebaskan akan dibuatkan folder melalui pengerukan hingga dicapai kedalaman tertentu dan mampu mengurangi banjir di kawasan sekitar situ.

Ketiga situ tersebut berlokasi di daerah yang berpotensi terkena banjir. Daya tampung situ sendiri, menurut Yurizal tergantung kedalaman pengerukan, namun prioritas pertama adalah melakukan pembebasan tanah terlebih dahulu.

"Ke depan bila memungkinkan diupayakan pembebasan situ lain yang dimiliki orang per orang. Proses pembebasan akan melibatkan kantor Badan Pertanahan," ujar Yurizal yang juga seorang arsitek itu.

Ia mengatakan, di Kota Bekasi ada 19 buah situ. Daya serap air di situ tersebut kini mengalami penurunan akibat kurang perawatan hingga terjadi pendangkalan serta tidak adanya pemasangan tebing diseputar kawasan situ.

Dari 19 buah situ tersebut hanya situ Pulo seluas enam hektare di Kelurahan Jati Karya, Kecamatan Jati Sampurna Bekasi yang dirawat Departemen Pekerjaan Umum.

Dari belasan situ di Kota Bekasi itu, sembilan di antaranya dimiliki perorangan, Departemen PU enam situ, dan lainnya oleh Perumnas, Kodam Jaya, dan Yayasan TMII.

Yurizal menyatakan, idealnya situ dikelola pemerintah dan dirawat secara baik sebagai tempat air parkir terutama saat hujan dan selanjutnya disalurkan sedikit demi sedikit atau dipompakan keluar situ.

Situ yang dikuasai perorangan dan dimiliki masyarakat tersebut digunakan untuk keperluan antara lain kebun, kolam atau dibiarkan menjadi lahan kosong.

Situ Cipendawa, yang merupakan situ terbesar di kota Bekasi dengan luas mencapai 60 hektare di Rawa Lumbu Bekasi, dibiarkan menjadi kebun dan sebagian lainnya hamparan yang diabaikan.

Situ yang dimiliki perorangan menurut Yurizal bisa dimanfaatkan pemiliknya sesuai keinginan seperti diurug, dialihfungsikan maupun dijadikan permukiman.

Yang menggembirakan dari 19 situ tersebut, menurut dia semuanya berada di bawah ketinggian kawasan permukiman terdekat dan kondisi itu jelas berbeda dibanding situ gintung di Tangerang.

Ia mencontohkan Situ Pulo yang merupakan situ tertinggi yaitu 80 meter diatas permukaan laut, namun di lokasi situ sudah dipasangi batu oleh pemerintah dan permukiman berada dititik lebih tinggi dari situ.

"Situ-situ di kota Bekasi tidak ada yang membahayakan. Kita bersyukur dengan kondisi tersebut, akan tetapi perawatan situ harus dilakukan dalam memaksimalkan fungsi situ itu sendiri," ujar Yurizal yang sebelumnya berkarir di Depdagri itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau