Trans Studio, Mercusuar di Timur Indonesia

Kompas.com - 09/09/2009, 10:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Hari ini, Rabu (9/9), Wakil Presiden Jusuf Kalla meresmikan Trans Studio Theme Park, di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Trans Studio merupakan kawasan wisata terpadu yang dibangun di atas lahan seluas 24 hektar. Salah satu bagian tempat wisata baru ini adalah taman bermain dalam ruangan (indoor) seluas 2,7 hektar.

Menurut catatan, saat ini taman bermain dalam ruangan terbesar di dunia terdapat di Lotte World Korea dengan luas 1,7 hektar. Dengan demikian, wahana indoor di Trans Studio Theme Park yang didesain oleh John Stevenson, sutradara Kung Fu Panda, merupakan arena wisata dalam ruang terbesar di dunia.  Wahana ini mampu menampung pengunjung hingga 10 ribu orang dengan kapasitas nyaman antara 6.000 - 8.000 orang.

Di dalam studio, uang kartal tidak berlaku.  Alat tukar untuk menikmati aneka permainan di tempat itu adalah kartu mikrochip. Alat tukar digital ini baru pertama kali digunakan di Makassar, bahkan konon pertama di dunia. Wahana rekreasi kelas dunia macam Disneyland di Los Angeles dan Disneyworld di Orlando kabarnya baru akan menggunakan teknologi ini tahun depan.  

Kartu mikrochip pengganti uang ini berlaku seumur hidup dan dapat digunakan untuk membeli cinderamata serta untuk kartu tol prabayar.

Dua area

Kawasan kompleks Trans Studio terbagi dalam dua area, yakni Trans Studio Theme Park sebagai tempat hiburan keluarga, dan Trans Studio Walk yang merupakan pusat perbelanjaan kelas dunia.

Trans Studio Theme Park terinspirasi oleh Disneyland dan Universal Studio. Area itu berada pada lahan seluas 2,7 hektar dengan 21 wahana permainan yang terbagi dalam empat zona dengan tema berbeda.

Pertama Studio Central, tempat para pengunjung akan bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi bintang dan mengetahui rahasia di balik layar tayangan-tayangan favorit.
Kedua Lost City, yang merupakan suatu kawasan seru yang menampilkan petualangan menegangkan ala Indiana Jones.

Ketiga, Cartoon City, yang merupakan dunia penuh warna, fantasi dan keajaiban. Di zona ini anak-anak akan larut dalam kegembiraan pada kenangan masa kecil yang ceria.

Keempat, Magic Corner, merupakan zona penuh suasana magis yang membuat pengunjung yakin pada apa yang disaksikan karena sensasi yang ditimbulkan.

Sedangkan di area Trans Studio Walk terdapat pusat perbelanjaan kelas dunia dengan lima lantai yang memiliki luas 55.000 meter persegi. Area tersebut juga dilengkapi tiga atrium. Pusat perbelanjaan ini akan menyediakan busana  bermerk internasional.

Trans Studio Makasar ini dibangun dengan investasi lebih dari Rp 1 triliun, dan dibangun atas kerjasama antara Trans Corps dan  Grup Kalla.

Mengapa Makassar

Mengapa areal raksasa ini dibangun di Makassar, tidak di Jawa atau Sumatera? Kalla memang putra Makassar. Tapi, di luar faktor Kalla, ada fakta-faktar menarik tentang Kota Angin Mamiri itu. Ada pasar besar di sana. Sebanyak 3,4 juta orang tinggal di Kota Makassar, sementara 4,6 juta lainnya adalah warga Sulawesi Selatan. Dengan demikian, ada 8 juta penduduk lokal provinsi itu yang merupakan pasar potensial.

Fakta lain yang bisa dicatat, pertumbuhan ekonomi di kawasan ini sangat tinggi. Gross Domestic Product (GDP) Makassar lebih tinggi dari GDP rata-rata nasional.  GDP Makassar sebesar Rp 7,1 juta pada tahun 2002 meningkat menjadi Rp 9,3 juta pada tahun 2009.

Makassar tengah bersinar.  Pertumbuhan ekonomi, sarana,  prasarana serta pariwisata yang demikian pesat beberapa tahun terakhir ini menjadikan Makassar seperti gadis perawan yang menarik perhatian banyak orang.  Kehadiran mega proyek Trans Studio membuktikan bahwa Makassar merupakan magnet baru. Wahana kelas dunia ini serupa mercusuar yang membentuk identitas baru wilayah timur Indonesia.  

Seorang pakar ekonomi dari AIM (Asian Institute of Management) Filipina pernah berkomentar tentang pembangunan Trans Studio, "Saya mengerti, Jawa adalah masa lalu, Sumatera adalah masa kini, dan Indonesia Timur adalah masa depan."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau