SBY Harus Serius Mencari Menteri Ekonomi dan Hukum

Kompas.com - 09/09/2009, 16:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat politik Universitas Indonesia, Bonny Hargens, meminta Presiden Yudhoyono serius menetapkan menteri di bidang ekonomi dan menteri di bidang hukum. Pasalnya, permasalahan yang dihadapi Indonesia berada di dua bidang tersebut.

"Presiden harus serius menetapkan menteri-menteri di bidang ekonomi dan hukum karena permasalahan kita di situ, yaitu ekonomi yang kurang baik dan korupsi," katanya dalam acara Dialog Kenegaraan DPD RI di Gedung DPD RI, Jakarta, Rabu (9/9).

Bonny juga meminta agar Presiden Yudhoyono profesional dalam menentukan menteri di kabinet mendatang. Sebab, hal itu akan memengaruhi kinerja kabinet yang akan berimbas pada terpenuhi tidaknya janji-janji politik Yudhoyono kepada masyarakat.

"Tidak mendengarkan suara-suara dari dapur, anak dan suara-suara lain. Tapi ia (Presiden Yudhoyono) harus menempatkan orang yang benar-benar mampu mengisi kabinet tersebut," katanya.

Mengenai komposisi ideal menteri, Bonny menilai, 60:40 merupakan komposisi yang ideal. Yaitu 60 untuk pos menteri yang berasal dari partai politik dan 40 untuk pos menteri dari kalangan profesional.

Lebih lanjut Bonny mengatakan, pemerintahan yang baru harus memiliki paradigma pengembangan ekonomi yang baik bagi masyarakat tidak mampu. Hal itu perlu dilakukan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat kelas bawah.

"Pemerintah baru harus punya suatu paradigma pengembangan ekonomi yang baik bagi masyarakat bawah harus komitmen membangun ekonomi," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau