Dua Jenazah Korban Nomad Dipulangkan ke Lombok

Kompas.com - 10/09/2009, 06:17 WIB

MATARAM, KOMPAS — Dua jenazah korban jatuhnya pesawat Nomad milik TNI AL, yaitu Fikri (30 tahun) dan Srihardi (35), tiba di Bandara Selaparang, Mataram, Nusa Tenggara Barat, sekitar pukul 22.15 Wita. Kedua jenazah diterbangkan dengan Pesawat Batavia Air dari Bandara Juanda Surabaya kemudian dibawa ke Terminal Kargo Bandara Selaparang. Sejumlah keluarga korban tidak mampu menahan tangis.

"Kami sekeluarga sudah ikhlas," ucap H Akram, paman almarhum Fikri. Ayahanda korban, H Munzihir, tidak ikut menyambut jenazah Fikri karena masih terpukul.

Mayor Ali, Perwira Operasional TNI AL Lanal Mataram, yang ikut menyambut jenazah, mengatakan kepada pers, Fikri, asal Desa Pringgasela, Lombok Timur, dan Srihardi, asal Desa Masbagik, Lombok Timur, menumpang pesawat Nomad itu dari Nunukan ke Tarakan. Rencananya, dari Tarakan keduanya akan mudik Lebaran ke Lombok . Keduanya adalah pekerja serabutan, seperti mencari kayu gaharu di hutan Kaltim.

Seorang korban lagi, Muhib (35), asal Desa Pringgasela, kata Mayor Ali, dikabarkan meninggal pukul 16.00 setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit TNI AL Tarakan. Muhib, yang saat pesawat itu jatuh mengalami luka-luka, mendadak kritis dan nyawanya tidak terselamatkan. Jenazah Muhib rencananya diterbangkan ke Mataram pada Kamis (10/9).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau