MATARAM, KOMPAS — Dua jenazah korban jatuhnya pesawat Nomad milik TNI AL, yaitu Fikri (30 tahun) dan Srihardi (35), tiba di Bandara Selaparang, Mataram, Nusa Tenggara Barat, sekitar pukul 22.15 Wita. Kedua jenazah diterbangkan dengan Pesawat Batavia Air dari Bandara Juanda Surabaya kemudian dibawa ke Terminal Kargo Bandara Selaparang. Sejumlah keluarga korban tidak mampu menahan tangis.
"Kami sekeluarga sudah ikhlas," ucap H Akram, paman almarhum Fikri. Ayahanda korban, H Munzihir, tidak ikut menyambut jenazah Fikri karena masih terpukul.
Mayor Ali, Perwira Operasional TNI AL Lanal Mataram, yang ikut menyambut jenazah, mengatakan kepada pers, Fikri, asal Desa Pringgasela, Lombok Timur, dan Srihardi, asal Desa Masbagik, Lombok Timur, menumpang pesawat Nomad itu dari Nunukan ke Tarakan. Rencananya, dari Tarakan keduanya akan mudik Lebaran ke Lombok . Keduanya adalah pekerja serabutan, seperti mencari kayu gaharu di hutan Kaltim.
Seorang korban lagi, Muhib (35), asal Desa Pringgasela, kata Mayor Ali, dikabarkan meninggal pukul 16.00 setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit TNI AL Tarakan. Muhib, yang saat pesawat itu jatuh mengalami luka-luka, mendadak kritis dan nyawanya tidak terselamatkan. Jenazah Muhib rencananya diterbangkan ke Mataram pada Kamis (10/9).
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang