PEKANBARU, KOMPAS.com--Indonesia dan Malaysia sebenarnya memiliki akar budaya yang sama, terbukti tanah semenanjung dulunya bersatu dan kerajaan Johor Riau pernah berpusat di Bintan, Kepulauan Riau.
"Dari akar budaya ini lah lahirlah bahasa Melayu yang kemudian di Indonesia menjadi bahasa nasional," kata Budayawan Riau, Tenas Effendi di Pekanbaru, Kamis.
Menyinggung soal klaim mengklaim kebudayaan, Tenas menyatakan, itu bukan urusan masyarakat, tetapi biar diselesaikan pemerintah kedua negara. "Yang perlu dijaga adalah bagaimana membenahi budaya kita sendiri dengan aktif mempatenkannya."
Menurut Tenas, soal klaim mengklaim ini tidak hanya sebatas kebudayaan dan seni. Saat ini, berbagai macam obat tradisional Indonesia juga telah diklaim oleh Jepang. Jika tidak dijaga, berangsur-angsur keanekaragaman tanaman ini juga diklaim negara lain.
Sejarah mencatat tanah Semanjung yang menyatukan Indonesia-Malaysia, baru dipisah pada tahun 1824 seiring keluarnya Traktrat (Perjanjian) London. Traktrat itu membagi tanah semenanjung menjadi dua bagian.
"Tanah Semenanjung Atas dijajah oleh Inggris. Sedangkan Semenanjung Bawah dijajah Belanda. Pada perkembangan selanjutnya Semenanjung Atas ini lah menjadi Malaysia dan Semenanjung Bawah merupakan Indonesia. Sejak itu pula, secara administrasi pemerintahan kita berpisah. Tapi budaya tetap satu," katanya.
Karena itu, kata Tenas, jangan heran jika berkunjung ke Johor dan Kuala Lumpur, persamaan budaya itu sangat kentara.
Tenas meminta semua pihak memahami budaya secara arti keturunan bukan dalam arti politik. Apalagi budaya Melayu mengajarkan untuk selalu berlapang dada, arif, bersifat baik dan selalu menjaga tali persaudaraan.
"Bahkan kini banyak menteri dan pejabat Malaysia berminat untuk menggali garis keturunan mereka di Indonesia," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang