Obama Tekan "Musuh"

Kompas.com - 11/09/2009, 07:14 WIB
 
 

WASHINGTON, KOMPAS.com -  Presiden Barack Obama, Rabu (9/9), meminta Kongres mengakhiri debat soal reformasi pelayanan kesehatan. Dia meminta kubu Partai Republik memberi ide-ide cemerlang. Presiden menekan ”musuh” dan memperingatkan agar semua pihak tidak membuang-buang waktu dengan mengutamakan politik ketimbang kepentingan publik.

Ide Obama menyediakan layanan kesehatan yang lebih baik dan lebih murah untuk rakyat AS telah menjadi perdebatan seru. Proposal Obama dikritik Republikan karena dianggap membebani keuangan negara. Reformasi kesehatan menjadi salah satu janji Obama dalam kampanye.

Dalam pidatonya di Kongres, Obama menawarkan asuransi kesehatan dengan lebih banyak pilihan, khususnya pada warga yang tidak mampu membayar asuransi kesehatan sendiri. Biaya asuransi kesehatan itu ditanggung pemerintah.

Obama mengatakan, program kesehatan yang dia tawarkan akan menelan biaya sebesar 900 miliar dollar AS selama satu dekade. ”Biaya ini lebih rendah dari biaya invasi Irak dan Afganistan serta lebih kecil dari jumlah pembebasan pajak yang dinikmati warga kaya AS,” katanya.

Pernyataan ini sekaligus ”menyindir” triliunan dollar AS anggaran pemerintah untuk biaya invasi Irak dan Afganistan yang disetujui Kongres AS pada era mantan Presiden George W Bush.

Lagi di bawah Bush, warga superkaya dan korporasi AS menikmati pembebasan pajak. Namun, di sisi lain pada era Bush, ketimpangan pendapatan makin besar dan banyak warga kelas bawah yang tak mampu membiayai pengobatan.

Namun, kubu Republik telah menolak rencana Obama tersebut. Mereka memandang program itu sebagai langkah pengambilalihan tanggung jawab kesehatan. Alasan lain penolakan Republik adalah khawatir akan membebani keuangan negara, yang sudah mengalami defisit 1,1 triliun dollar AS.

Senator John McCain, pesaing Obama dalam Pemilu Presiden 2008, mengatakan khawatir akan tingginya beban negara.

Di bawah Bush, Kongres AS menyetujui 700 miliar dollar AS dana talangan pemerintah untuk korporasi raksasa, yang pernah menikmati pembebasan pajak.

Kepada kubu Republikan, Obama menawarkan kerja sama dan berjanji bahwa program yang dia tawarkan tidak akan menaikkan defisit anggaran pemerintah.

Obama menyerang musuh politiknya dari sesama Demokrat, yang menginginkan dia agar lebih asertif. Obama menuduh mereka ini melakukan taktik menakutkan dan menebar kebohongan publik untuk menjegal program dan masa jabatannya.

Perdebatan demi perdebatan soal reformasi pelayanan kesehatan membuat popularitas Obama menurun tajam.

”Saya tidak akan membuang-buang waktu dengan mereka yang membuat perhitungan, terutama mereka yang lebih mementingkan permainan politik demi menggagalkan rencana ini ketimbang memperbaikinya,” ujar Obama.

AS adalah satu-satunya negara maju yang tidak memiliki program kesehatan umum untuk rakyat. Sekitar 50 juta warga AS tidak memiliki asuransi kesehatan. Kurangnya perlindungan asuransi kesehatan menyebabkan banyak sekali orang menjadi bangkrut setiap hari karena tidak mampu bayar biaya kesehatan.

Popularitas naik

Isu kesehatan menjadi penentu bagi Obama dalam sembilan bulan setelah menduduki jabatan presiden. Dia mampu memberi harapan, baik di dalam maupun di luar negeri.

Namun, sukses atau gagalnya Obama dalam hal reformasi pelayanan kesehatan ini akan sangat menentukan apakah Obama bisa meningkatkan pengaruh politik dalam menangani isu lain seperti perubahan iklim, kontrol senjata, dan perang Afganistan.

Isu kesehatan juga akan membentuk opini publik, yang sangat menentukan dalam pemilu kongres tahun depan.  Riset CNN/Opinion menunjukkan 67 persen responden mendukung program Obama setelah pidato hari Rabu itu. Angka ini naik dari 53 persen sebelum pidato. (AP/AFP/Reuters/JOE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau