TEHERAN, KOMPAS.com - Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memperingatkan oposisi Jumat (11/9) bahwa mereka akan menghadapi respon keras jika mereka menarik "pedang" melawan pemerintah yang berkuasa.
Peringatan Khamenei, yang disampaikan pada khotbah shalat Jumat tiga bulan setelah pemilihan umum bermasalah yang mengakibatkan kerusuhan luas itu, merupakan pesan tegas bahwa ia tidak akan mentoleransi ancaman terhadap sistem keulamaan pemerintah Iran.
"Menolak sistem dan mengeluarkan pedang melawan sistem akan dihadapi dengan tindakan tegas," katanya kepada umat Islam yang mendengarkan khotbah yang disiarkan langsung televisi pemerintah itu.
"Jika seseorang melawan dasar sistem (Islam) dan melanggar keamanan rakyat, maka sistem terpaksa melawannya," katanya. Mengenai masalah program nuklir yang dipersoalkan negara-negara Barat, Khamenei mengatakan bahwa Iran tidak akan mundur dalam hal "hak-hak nuklirnya".
"Adalah sebuah tanda penyimpangan melepaskan hak-hak orang, hak nuklir atau hak non-nuklir," katanya. Khotbah shalat Jumat itu merupakan yang pertama disampaikan Khamenei sejak pemilihan umum Juni.
Khamenei yang telah mengukuhkan pemilihan kembali Mahmoud Ahmadinejad sebagai presiden, menuduh oposisi menyulut petumpahan darah dan menuduh Barat campur tangan dalam urusan dalam negeri Iran.
Iran menghadapi krisis terburuk sejak pembentukan republik Islam itu pada 1979, ketika ratusan ribu orang turun ke jalan-jalan dalam protes sepekan menentang hasil pemilihan umum itu.
Para pejabat mengatakan bahwa 30 orang tewas dalam kerusuhan itu, namun oposisi menyebut jumlah kematian 69. Sekitar 4.000 orang ditangkap dan puluhan reformis, wartawan dan pendukung oposisi disidangkan atas tuduhan berusaha menggulingkan rejim Iran dengan dukungan asing, khususnya AS dan Inggris.
Para pemimpin oposisi yang mencakup calon-calon presiden, Mir Hossein Mousavi dan Mehdi Karroubi, mengecam persidangan itu, menolak mengakui kepresidenan Ahmadinejad dan berjanji melanjutkan protes.
"Hari ini, lebih pasti daripada sebelumnya, kita harus mendorong perubahan, yang merupakan tuntutan sah dari gerakan reformis," kata Mohammad Khatami, mantan presiden dan pendukung utama kelompok-kelompok oposisi Iran, seperti dikutip kantor berita ILNA, Jumat (28/8).
Pada 3 Agustus, Khamenei mensahkan hasil pemilu yang mendudukkan lagi Mahmoud Ahmadinejad ke tampuk kekuasaan ketika ia mengukuhkan kemenangannya dalam pemilihan presiden bermasalah 12 Juni yang mengarah pada protes dan kerusuhan mematikan di jalan-jalan.
Iran sudah menggelar persidangan massal terhadap lebih dari 140 orang yang dituduh memiliki kaitan dengan demonstrasi besar-besaran dan kekerasan yang terjadi setelah kemenangan Ahmadinejad yang dipersoalkan. Pemerintah Iran menuduh saingan utama Ahmadinejad, Mir Hossein Mousavi, dan calon lain yang kalah menyulut pergolakan politik, dan menyebut negara-negara asing berencana menggoyahkan Iran.
Mantan Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani mengecam propaganda yang dilakukan media asing mengenai pergolakan kekuasaan di jajaran tinggi kepemimpinan Iran.
"Propaganda yang dilakukan media asing yang berusaha mengisyaratkan bahwa terjadi pergolakan kekuasaan di tingkat puncak pemerintahan merupakan hal yang tidak adil sama sekali bagi revolusi Islam," kata Rafsanjani.