Uang dari Luar Negeri Melejit

Kompas.com - 12/09/2009, 06:47 WIB
 
 

JAKARTA, KOMPAS.com - Bisnis pengiriman uang dari luar negeri atau remittance yang dilakukan perbankan meningkat pesat. Perbankan nasional juga semakin giat membuka gerai pengiriman uang baru di luar negeri untuk meningkatkan basis nasabah.

Pada Agustus 2009, jumlah pengiriman uang dari luar negeri melalui BNI tercatat Rp 17,35 triliun, meningkat 17 persen dibandingkan bulan sebelumnya sebesar Rp 14,82 triliun.

Selama periode Januari-Agustus 2009, total jumlah uang yang dikirim ke Tanah Air melalui BNI sekitar Rp 100 triliun. BNI menargetkan, selama tahun ini nilai pengiriman uang ditetapkan Rp 200 triliun.

Direktur Treasuri dan Internasional BNI Bien Subiantoro, Jumat (11/9) di Jakarta, menjelaskan, peningkatan nilai pengiriman uang yang signifikan pada Agustus 2009 dipicu karena adanya bulan Ramadhan.

”Setiap Ramadhan, tenaga kerja Indonesia di luar negeri biasanya mengirimkan uang lebih besar kepada keluarganya di Indonesia untuk persiapan Lebaran,” kata Bien.

Peningkatan volume pengiriman uang juga disebabkan dalam beberapa bulan terakhir, BNI gencar membuka gerai pengiriman uang di sejumlah negara. Pada bulan lalu, BNI membuka gerai di Hongkong dan Singapura.

”Kami juga tengah menjajaki penambahan gerai di Korea Selatan dan Taiwan,” tutur Bien. Di Korea Selatan, jumlah TKI tercatat 30.000 orang, sedangkan di Taiwan sekitar 130.000 orang.

Memanfaatkan TKI

Felia Salim, Wakil Direktur Utama BNI, saat meresmikan gerai pengiriman uang di Singapura mengatakan, prospek pengiriman uang di Singapura sangat bagus mengingat ada 110.000 orang warga Indonesia di Singapura yang secara rutin melakukan transaksi pengiriman uang.

”Bisnis pengiriman uang merupakan salah satu fokus BNI yang ingin menjadi transactional banking terbesar di Indonesia,” papar Felia Salim.

Saat ini BNI memiliki 5 cabang, yakni di Singapura, Hongkong, Tokyo, London, dan New York, serta 1.100 bank koresponden di seluruh dunia.

BNI juga telah menambah gerai pengiriman uang di beberapa negara di Timur Tengah, antara lain Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Jordania, dan Aljazair.

Selain BNI, Bank Mandiri juga gencar meningkatkan bisnis pengiriman uang dari luar negeri. Setelah pada bulan Agustus 2009 menandatangani kerja sama dengan dua bank asal China, ICBC dan Bank of China, untuk transfer mata uang yuan, mulai bulan September ini Bank Mandiri siap melayani pengiriman uang dari Malaysia, khususnya membidik pasar TKI.

”Pada 3 September 2009, Bank Negara Malaysia telah menyetujui Bank Mandiri membuka layanan pengiriman uang di Malaysia,” ujar Thomas Arifin, Direktur Treasuri dan Internasional Bank Mandiri.

Menurut dia, layanan pengiriman uang di Malaysia akan dilakukan oleh Mandiri International Remittance (MIR), anak perusahaan Bank Mandiri yang secara khusus didirikan untuk mengembangkan bisnis pengiriman uang Bank Mandiri.

Izin tersebut sejalan dengan strategi Bank Mandiri untuk meningkatkan pendapatan dari jasa (fee based) pengiriman uang dari Malaysia ke Indonesia, Singapura atau negara lain di mana Bank Mandiri memiliki cabang.

Menurut Thomas, pemilihan Malaysia sebagai lokasi pengembangan bisnis pengiriman uang Bank Mandiri cukup beralasan mengingat jumlah TKI di Malaysia lebih dari 2 juta orang. Sementara itu, jumlah TKI yang diberangkatkan ke Malaysia meningkat rata-rata 15 persen setiap tahun.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau