Jelang Lebaran, Suramadu Masih Gelap Gulita

Kompas.com - 13/09/2009, 22:08 WIB

SURABAYA,KOMPAS.com - Sepekan sebelum Lebaran, lampu penerangan di sepanjang Jembatan Suramadu belum juga menyala. Dipastikan, selama Lebaran fasilitas penerangan di Jembatan Suramadu belum akan siap. Masalahnya, PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur baru menerima pengajuan pembangunan jaringan, Jumat (11/9).

"Pengajuan pembangunan jaringan penerangan di Jembatan Suramadu baru saja kami terima dari pengelola Jembatan Suramadu, Jumat (11/9) kemarin. Ini tak bisa dipercepat karena kami harus melakukan survei dahulu," kata Juru Bicara PT PLN (Persero) Distribusi Jatim Agus Widayanto, Minggu (13/9) di Surabaya.

Menurut Agus, fasilitas penerangan Jembatan Suramadu diperkirakan membutuhkan daya sekitar 200 kilo volt ampere (KVA) sehingga harus dibangun jaringan tegangan menengah. Pembangunan jaringan tegangan menengah membutuhkan waktu lama mengingat daya listrik harus disalurkan dari gardu induk yang berada di Kenjeran.

"Untuk menyalurkan daya dari gardu induk ke jaringan tegangan menengah dibutuhkan survei pemetaan jalur. Saat ini petugas kami sedang melakukannya," ucapnya.

Agus menambahkan, PLN akan secepatnya menerbitkan perizinan. Tapi, ini juga tergantung pengelola, jika mereka membayar dahulu maka PLN akan segera melaksanakannya.

Kerancuan tanggung jawab

Kepala Balai Besar Jalan Nasional V Departemen Pekerjaan Umum AG Ismail mengatakan, terjadi kerancuan seputar tanggungjawab pengadaan fasilitas penerangan di Jembatan Suramadu.

"Biasanya setelah kami membangun jembatan, kontribusi penerangan kami serahkan pada daerah. Tapi Jembatan Suramadu sendiri sifatnya khusus, yaitu bangunan berskala nasional, maka pemerintah daerah tak akan kuat menanggung beban pengadaan penerangan sebesar ini," tuturnya.

Sementara itu, jika diserahkan PT Jasa Marga (Persero) juga t ak mungkin, karena PT Jasa Marga (Persero) saat ini hanya berstatus sebagai operator sementara selama 1,5 tahun. Meski demikian, menurut Ismail, pengadaan instalasi listrik di Suramadu akan diserahkan pada kontraktor, yaitu Consortium Indonesian Contractors (CIC).

Secara terpisah, pihak PT Jasa Marga (Persero) selaku operator mengaku tak bertanggungjawab terkait pembangunan instalasi penerangan Jembatan Suramadu. "Kami sudah menyampaikan hal ini pada kontraktor tapi sampai saat ini belum ada penanganan. Yang jelas ini bukan tanggungjawab kami," kata Kepala PT Jasa Marga (persero) Cabang Surabaya-Gempol Agus Purnomo.

Rawan kriminalitas

Sepekan sesudah diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu (10/6) lalu, Jembatan Suramadu terlihat megah pada malam hari dengan penerangan lampu menyeluruh mulai kaki jembatan sisi Surabaya hingga sisi Madura. Namun, justru setelah resmi beroperasi sebagai jalan tol, lampu-lampu penerangan di sepanjang Jembatan Suramadu mati. Penerangan yang sudah ada sebelumnya ternyata hanya bersifat sementara dengan bantuan genset untuk keperluan peresmian saja.

Kini, kemegahan Suramadu tak terlihat sama sekali di malam hari. Lebih mengkhawatirkan lagi, ruas tol Suramadu yang gelap berpotensi besar mengundang terjadinya tindakan kriminalitas.

Kebutuhan penerangan di sepanjang Jembatan Suramadu semakin mendesak menjelang Lebaran. Meningkatnya arus pemudik menjelang dan sesudah Lebaran harus segera ditopang dengan sarana penerangan yang memadai.

Diperkirakan arus lalu lintas dari Kota Surabaya ke Pulau Madura akan berpusat di Jembatan Suramadu. Sementara itu, di penyeberangan Ujung-Kamal akan terjadi penurunan volume angkutan sebesar 22 persen.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau