KOMPAS.com - ADA anggapan umum yang beredar di masyarakat bahwa barang yang dilego dengan potongan harga alias diskon bisa jadi berkualitas nomor dua. Umumnya, itu merupakan upaya pedagang untuk menghabiskan stok yang masih menumpuk.
Namun, benarkah anggapan itu juga berlaku di sektor properti? Manajer Pemasaran Panorama Serpong Hamim Akbar menampik anggapan ini. Menurut dia, produk properti tidak bisa disamakan dengan produk lain.
Ia mencontohkan, kualitas semua rumah yang ditawarkan ?PT Arya Lingga Manik, pengembang Panorama Serpong selama Ramadhan tak berbeda dengan rumah lain yang dijual tanpa diskon. “Apalagi, diskon berlaku untuk semua unit rumah,” sanggah dia.
Program diskon properti ini, menurut Hamin, merupakan salah satu cara ampuh untuk mendongkrak angka penjualan. Buktinya, belum genap sebulan promosi potongan harga ini berlangsung, pihaknya sudah ada mendapat pemesanan sebanyak 20 unit rumah.
Ia yakin, jumlah tersebut tak akan tercapai kalau rumah yang ditawarkan berkualitas rendah. “Di program diskon ini, kami mematok target penjualan bisa naik sebesar 5%,” kata Hamim.
Pengembang PT Lippo Cikarang juga sependapat. Unit rumah yang mereka jual dengan program diskon selama bulan puasa ini tetap memiliki kualitas bagus. “Kualitas tetap nomor satu bagi kami,” kata Juru Bicara PT Lippo Cikarang, Ria Sormin.
Rumah di kluster Vassa Residence yang dilego selama program diskon justru memiliki beberapa kelebihan. Misalnya, fasilitas garasi dan carport jauh lebih lapang dan memiliki fasilitas kolam renang di dalam rumah.
Direktur Century Pertiwi, Ali Hanafia juga menepis anggapan bahwa diskon berbanding lurus dengan kualitas yang minim. “Saya kurang sependapat dengan anggapan itu. Sebab, pembeli sekarang sudah kritis,” katanya. Konsekuensi dari pembeli kritis, kata Ali, pembeli akan enggan membeli barang kalau kualitasnya tak layak pakai.
Malah, Ali menegaskan, pengembang yang coba-coba menawarkan produk rumah dengan harga murah tapi kualitas diturunkan justru bisa membuat konsumen tidak percaya lagi pada proyek itu. “Bisa-bisa, pengembang tak dipercaya lagi,” ujarnya. Padahal, kepercayaan adalah salah satu faktor utama dalam bisnis perumahan.
Selain itu, saat ini, persaingan di bisnis properti semakin ketat. Jumlah pengembang sudah semakin banyak. Semua ingin menjaring konsumen sebanyak mungkin. Salah satu kuncinya, mereka harus menjaga kualitas produk di mata konsumen. “Dulu bisa memberi diskon dengan kualitas tak bagus, sekarang tidak bisa lagi,” kata Ali.(KONTAN/Anastasia Lilin Yuliantina)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang