Soal RUU Rahasia Negara, Menhan Cuci Tangan!

Kompas.com - 15/09/2009, 11:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Komisi I DPR, Andreas Pareira, mempertanyakan pernyataan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, yang menyebutkan bahwa DPR terburu-buru ingin menyelesaikan pembahasan RUU Rahasia Negara. Menurut anggota Fraksi PDI Perjuangan ini, pernyataan Juwono terkesan cuci tangan.

"Pernyataan (Menhan) itu hanya cuci tangan dan mencari popularitas. Saat di ujung tanduk, Menhan mengatakan dari Komisi I. Padahal, yang membahas pemerintah dan DPR," ujar Andreas, Selasa (15/9) di Gedung DPR, Jakarta.

Agenda pembahasan yang intensif, kata Andreas, merupakan kesepakatan pemerintah dan DPR. "Sejak awal, PDI Perjuangan mengatakan, kita tidak bermaksud harus menyelesaikan periode ini. Tidak ada target selesai pada periode ini," kata dia.

Materi yang masih menjadi perdebatan menyangkut definisi rahasia negara. DPR berpendapat, posisi rahasia negara terkait informasi. "Namun, bertele-tele karena pemerintah ingin rahasia negara juga menyangkut benda dan aktivitas," kata dia.

Sejak awal, menurut Andreas, pihaknya juga khawatir jika pembahasan dan ketok palu RUU Rahasia Negara dipaksakan selesai pada periode ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau