Pondok pesantren

Wirausaha Santri Muda

Kompas.com - 15/09/2009, 13:36 WIB

Nur Ikhsan (28), santri Pondok Pesantren (Ponpes) Roudlatut Thalibin asuhan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus, pernah mengikuti program live-in membantu pedagang kaki lima di Alun-alun Kabupaten Rembang. Selama sebulan, dia bertugas membuat minuman dan mencuci perkakas makan dan minum.

Santri asal Desa Kelopo dhuwur, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, itu mengaku mendapat berbagai pengalaman dan nilai-nilai kehidupan dari keluarga penjual ayam goreng tepung. Salah satunya adalah semangat kewirausahaan.

"Pedagang itu mencari nafkah untuk menghidupi anak-anaknya. Tentu saja dia mengalami untung dan rugi. Namun, semangatnya sangat tinggi. Kalau dia bisa, mengapa saya tidak," kata Ikhsan di Rembang, Senin (14/9).

Safrudin (30), alumni Ponpes Roudlatut Thalibin lainnya, juga menerapkan semangat kewirausahaan dari ponpes tersebut. Selain mengajar agama di Desa Sumberejo, Kecamatan Rembang, dia juga berbisnis minuman kemasan dan membuka kios pakaian di Pasar Kota Rembang.

"Sebagai santri, saya mengelola koperasi. Dari situ, saya belajar memanajemen dagang secara sederhana," kata Safrudin.

Staf pengajar Ponpes Roudlatut Thalibin, Bisri Adib Hatani (Gus Adib), mengatakan, ponpes menanamkan teori dan praktik kewirausahaan. Teorinya, para santri mengembangkan kewirausahaan secara jujur, tidak gampang menyerah, dan menghidupkan semangat keteladanan atau tarbiyatu al-suluk (mendidik untuk menapaki) dari pengasuh.

Konkretnya, mengelola koperasi, membuat lembaran "Jurnal Mata Air", dan bekerja di percetakan serta penerbitan. Di koperasi, santri belajar manajemen air siap minum (Arsinum).

"Pengelolaan air itu memakai teknologi reverse osmosis atau desalinasi, mengubah air payau menjadi air siap minum yang dikemas dalam galon. Ponpes bekerja sama dengan Kementerian Negara Riset dan Teknologi," kata Gus Adib.

Di percetakan dan penerbitan, santri menerjemahkan tulisan atau bahasa Arab ke Indonesia. "Kami berharap, keluar dari ponpes, mereka dapat mengembangkan ilmu agama dan wirausaha," kata Gus Adib. (HENDRIYO WIDI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau