Mengais Rezeki Menjelang Malam Takbiran

Kompas.com - 16/09/2009, 06:01 WIB
 
 
 

KOMPAS.com - Semarak menjelang malam takbiran terlihat di sepanjang jalan menuju Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Di tepi Jalan KH Mas Mansyur, berderet-deret beduk berukuran besar-kecil dipamerkan. Tong-tong bekas pun disulap menjadi menarik setelah dicat aneka warna.

”Ini kerjaan rutin saban tahun. Saya udah jualan beduk sebelum ada orang lain jualan. Sekarang sudah ramai orang jualan (beduk),” ucap Fauzi (40), warga asli Betawi yang lebih beken dipanggil Mona lantaran perawakannya mirip orang Ambon.

Saking ramainya orang berjualan beduk, Fauzi mengaku omzet penjualan tahun ini merosot. Apabila menjelang Lebaran tahun lalu Fauzi bisa menjual 50-200 beduk, kini baru 25 beduk yang laku. ”Moga-moga saja pembeli rame pas dekat malam takbiran,” kata Fauzi yang mengantongi untung sekitar Rp 10 juta pada Lebaran tahun lalu.

Ramainya penjualan beduk itulah yang mendorong Dedi (49) menerima tawaran sebagai penjual beduk di kawasan Tanah Abang. Baru tahun ini, ayah lima anak itu berjualan beduk di trotoar Jalan KH Mas Mansyur.

”Biasanya sih saya ikut jadi tukang bangunan. Tapi tahun ini lagi sepi, enggak ada yang ngajak nukang. Kebetulan ada tawaran menjualkan beduk, ya saya terima saja biar bisa dapat pemasukan,” ujar Dedi.

Kalau beduk yang dijajakan Fauzi adalah buatan sendiri atau dari tetangga rumah, beduk yang dijual Dedi adalah milik bosnya yang tinggal di Kebon Pala. Dedi hanya mengantongi ongkos harian Rp 10.000. Kalau ada beduk yang bisa dijual di atas harga yang ditetapkan si bos, itu berarti pemasukan tambahan buat Dedi. Setiap beduk dibanderol harga Rp 50.000 dari bos.

Kendati berusaha mencari tambahan Rp 5.000 atau paling banter Rp 10.000, tetap saja sulit bagi Dedi untuk menjual beduk berdiameter 30 sentimeter itu di atas harga yang ditawarkan bosnya. Apalagi, pembeli biasanya sudah tahu harga sehingga langsung menawar Rp 50.000.

Namun, tidak semua beduk yang dijajakan di jalan itu seharga Rp 50.000. Setiap pedagang umumnya punya patokan harga masing-masing. Fauzi menetapkan harga Rp 150.000-Rp 400.000 per beduk, tergantung ukuran beduk.

Kulit kambing

Rupanya, tidak hanya beduk yang ditawarkan. Para pedagang musiman itu juga menjual kulit kambing lembaran yang sudah kering untuk beduk. Peminat kulit kambing lembaran ini umumnya adalah pengurus masjid atau mushala. Harga kulit kambing bervariasi antara Rp 60.000 dan Rp 80.000 per lembar.

”Tahun-tahun lalu saya bisa menjual kulit kambing sampai 300 lembar. Sekarang baru 50 lembar yang laku,” tutur Fauzi.

Bagi pedagang kambing seperti Fauzi, masa menjelang Lebaran ini merupakan kesempatan menangguk untung. Biasanya, kulit-kulit kambing hanya dijual begitu saja kepada perajin tas atau jaket seharga Rp 30.000 per lembar kulit basah.

Satu lembar kulit itu bisa dipakai untuk membuat tiga beduk kecil atau dua beduk sedang. Kalau untuk beduk besar, hanya cukup untuk satu beduk. Apabila ditambah dengan kebutuhan untuk membeli tong, modal yang dikeluarkan Fauzi berkisar Rp 75.000 (beduk kecil), Rp 100.000 (beduk sedang), dan Rp 200.000 (beduk besar). Harga jual yang dipatok adalah dua kali modal membuat beduk.

”Itu baru hitung-hitungan di atas kertas. Entah bagaimana nasib besok. Kalau semua beduk laku, baru bisa dapat untung. Tapi kalau sepi sekali, ya terpaksa beduk dibongkar. Hanya tong yang bisa disimpan untuk dibuat beduk lagi tahun depan. Kalau kulitnya sih dianggap sebagai barang rugi saja,” ujar Fauzi yang merogoh modal sampai Rp 10 juta tahun ini.(AGNES RITA SULISTYAWATY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau