2010, Pemerintah Bisa Kerek Harga BBM

Kompas.com - 16/09/2009, 11:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah makin leluasa mengerek harga BBM bersubsidi tahun depan. Salah satu pasal dalam UU tentang APBN 2010 akan memberi ruang buat pemerintah untuk menaikkan harga premium dan kawan-kawan.

Tentu, pemerintah tidak bisa begitu saja mendongkrak harga BBM bersubsidi. "Syaratnya, kalau harga minyak mentah naik sampai di atas 10 persen dari asumsi harga minyak Indonesia (ICP) sebesar 65 dollar AS per barrel," kata Wakil Ketua Panitia Anggaran Suharso Monoarfa kepada Kontan, awal pekan ini.

Sebab, kenaikan ICP, antara lain akan meningkatkan belanja subsidi BBM dan dana bagi hasil ke daerah. Jika rata-rata harga minyak lebih tinggi 1 dollar AS per barrel dari angka asumsi, ada tambahan defisit hingga Rp 100 miliar.

Kalau sudah begini, salah satu jalan yang bisa ditempuh pemerintah adalah menaikkan harga bensin dan produk lain yang selama ini disubsidi. "Kenaikan harga BBM ini juga untuk mengantisipasi potensi kehilangan yang besar dari adanya insentif pajak berupa penurunan tarif pajak penghasilan (PPh) untuk badan dari 28 persen menjadi 25 persen," ungkap Suharso.

Kenaikan BBM bersubsidi hanya salah satu cara lantaran pemerintah punya opsi lain yang juga sudah mendapat restu dari DPR, yakni pendistribusian BBM bersubsidi dengan sistem tertutup. Dengan begitu, BBM bersubsidi bisa lebih tepat sasaran.

Suharso mengatakan, bila pemerintah mengambil opsi menaikkan harga BBM, defisit tahun depan yang dipatok sebesar Rp 98 triliun atau 1,6 persen dari produk domestik bruto (PDB) bisa tetap dijaga.

Namun, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, defisit APBN 2010 masih mungkin dikerek hingga 2 persen dari PDB. Lantaran, pembiayaan masih cukup untuk menutup lubang defisit. "Itu bisa dinaikkan tanpa menimbulkan masalah kepercayaan dan lainnya," kata dia. (Martina Prianti/Kontan)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau