Hati-hati, Kecanduan Pornografi

Kompas.com - 16/09/2009, 14:46 WIB

KOMPAS.com — Saat ini diperkirakan lebih dari 420 juta orang dewasa secara rutin mengakses situs porno. Pesatnya perkembangan teknologi, khususnya internet, memang membuat pornografi bisa diakses dengan mudah dan murah tanpa terkesan jorok. Sayangnya, situs khusus orang dewasa itu juga ikut diakses oleh anak-anak.

Pada 2004, dewan ahli di Amerika Serikat pernah menyampaikan kepada Senat mengenai bahaya candu dari produk bernama pornografi terhadap fungsi otak. Pengaruh pornografi pada otak disebut dengan toxic atau racun. Kecanduan pornografi sama prosesnya dengan kokain dan zat adiktif lainnya.  

Kecanduan tersebut juga merusak fungsi dan struktur otak dengan pola yang sama dengan gejala-gejala adiksi fisiologis karena obat-obatan dan alkohol.

Seorang ahli jiwa bahkan mengatakan, paparan pornografi secara terus-menerus akan menyebabkan perubahan konstan pada neurotransmiter dan melemahkan fungsi kontrol. Seseorang yang kecanduan pornografi bakal tak bisa mengontrol perilaku seksnya dan mengalami gangguan memori.

Menurut Mary Anne Layden, PhD, psikolog dari Universitas Pennsylvania, seperti halnya pecandu narkoba atau alkohol yang butuh dosis lebih besar agar bisa "melayang", para pecandu pornografi pun punya kebutuhan untuk melihat materi porno yang lebih ekstrem untuk mencapai level kepuasan tertentu, misalnya saja adegan seks dengan anak kecil atau binatang.

Namun, berbeda dengan kecanduan narkoba atau alkohol, kecanduan pornografi tidak hanya memengaruhi fungsi otak, tapi juga merangsang tubuh, fisik, dan emosi diikuti perilaku seksual.

Menurut  Louanne Cole Weston PhD, terapis seks, ada tiga alasan utama yang menyebabkan seseorang mengakses hal-hal berbau porno, yakni ingin fantasi mereka jadi kenyataan, menghindari keintiman dalam hubungan, dan sarana masturbasi.

"Kadang mereka hanya ingin melihat hal-hal yang selama ini cuma bisa dibayangkan, misalnya karena pasangannya tak mau melakukan seks oral saat berhubungan sehingga mereka mencari video atau gambar orang yang melakukan seks oral," kata Weston.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau