Raker DPR-Menhan Panas, Nyaris Adu Jotos

Kompas.com - 16/09/2009, 16:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Rapat kerja antara Komisi I DPR RI dan Menteri Pertahanan di DPR, Rabu (16/9), diwarnai ketegangan. Emosi menjurus ke aksi adu jotos nyaris terjadi. Bukan antara anggota komisi dan pemerintah, tetapi antar-anggota Dewan sendiri.

Ketegangan berawal dari penyampaian sikap Fraksi Partai Bulan Bintang (PBB) oleh Ketua Fraksi PBB Ali Mochtar Ngabalin atas keputusan pemerintah menarik draf RUU Rahasia Negara yang sudah dibahas hampir 1,5 tahun. Ngabalin mengatakan, fraksinya sangat kecewa terhadap pemerintah atas keputusan ini karena seenaknya membatalkan pembahasan setelah menghabiskan banyak waktu, uang, dan tenaga. Ngabalin menunjuk langsung kepada sosok Presiden.

"Dengan cara yang tidak menghargai saudara mengukur moral politik kita sangat rendah. Apresiasi saya atas ketidakkonsistenan pemerintah. Presiden itu cenderung plinplan, mencla-mencle. Ini menunjukkan rendahnya adab politik pemerintah. Tidak boleh terulang lagi," tegas Ngabalin.

Ketika Ketua Theo L Sambuaga sampai pada waktu memberikan kesempatan kepada Ketua Fraksi Demokrat Syarief Hasan, Syarief memulainya dengan menyindir tanggapan Ngabalin.

"Bahwa orang yang menjelekkan orang lain seperti Presiden, pemimpin negara, itu bukan orang yang beradab," tutur Syarief.

Pernyataan Syarief membuat Ngabalin berang. Ngabalin segera menginterupsi dengan suara keras meminta Theo memberhentikan tanggapan Syarief yang menjurus padanya. Menurut Ngabalin, Syarief tak pantas mengkonfrontasi pernyataannya.

"Ketua, Anda harus mengeluarkan dia. Dia bisa berpendapat, tapi tidak bisa mengkonfrontir. Kalau mau bilang tentang itu jangan diobrolin di dalam forum ini," tegas Ngabalin.

Theo meminta Ngabalin tenang. Namun, Ngabalin tambah berang ketika Syarief tetap meneruskan tanggapannya yang seolah-olah membela sosok Presiden. Ngabalin akhirnya berdiri sambil menunjuk ke arah Syarief yang ada di seberangnya.

Sayangnya, Syarief terus berbicara menjawab tuntutan Ngabalin kepada Theo. "Anda berbicara yang tidak sopan. Saya menghargai perbedaan, tapi jangan menjelek-jelekkan pemerintah. Marilah kita hormati pemimpin kita," lanjut Syarief.

Ngabalin yang sempat duduk akhirnya kembali berang. Ngabalin turun dari tempat duduknya di bagian atas sisi kanan Theo menuju tempat Syarief duduk. Mereka sempat dorong-dorongan sampai akhirnya berhasil dipisahkan anggota komisi lainnya.

Seorang anggota komisi lain meminta Syarief untuk tidak mengomentari pendapat di luar substansi. Namun, Syarief membela diri dengan mengatakan bahwa dirinya hanya menanggapi pernyataan yang juga di luar substansi.

Menhan Juwono Sudarsono dan jajarannya hanya bisa memandang ulah anggota Dewan dari tempat duduknya. Untungnya, suasana tegang mereda dan penyampaian pendapat dilanjutkan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau