Para Pemudik, Waspadalah terhadap Aksi Pembiusan

Kompas.com - 16/09/2009, 19:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Puncak arus mudik diperkirakan terjadi hari Kamis (17/9) besok. Para pemudik yang akan berangkat lewat terminal dan stasiun diminta selalu waspada terhadap aksi pembiusan oleh penjahat. Hati-hatilah jika bertemu orang tak dikenal selama menunggu angkutan dan sepanjang perjalanan. 

Petugas keamanan dan posko pendukung, seperti posko keamanan, informasi, dan kesehatan di Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan, disiagakan. Lebih dari 30 petugas siap melayani pemudik, termasuk berpatroli keliling terminal dan segera bertindak jika ada laporan kejahatan atau gangguan lainnya terhadap pemudik. Selain itu, spanduk berisi peringatan yang mudah dibaca pemudik terpampang di beberapa sudut terminal.  

Kasus terakhir, ada tiga orang yang dibius di bandara dan ditelantarkan di Lebak Bulus. Mereka dibius, dirampok, dan dibiarkan tanpa sepeser pun uang di terminal ini. "Mereka dibius melalui minuman atau makanan yang diberi oleh orang tak dikenal di bandara. Makanya, kami minta pemudik makin waspada sekarang," kata Wali Kota Jakarta Selatan Syahrul Effendi saat melihat kesiapan layanan mudik di Terminal Lebak Bulus, Rabu (16/9).

Menurut Kepala Terminal Lebak Bulus Endi Lastion, ketiga orang tersebut, yaitu Tuslan (43), Selamet (22), dan Sumadi (30), akhirnya bisa pulang ke kampung halaman mereka di Cilacap, Jawa Tengah, setelah dibantu aparat setempat yang bekerja sama dengan pengusaha bus. Namun, bisa dipastikan, perayaan Lebaran ketiganya suram karena kehilangan harta benda hasil merantau kerja di Jakarta serta sakit fisik akibat pembiusan.

Harga tiket melambung

Rabu itu, jumlah pemudik di Lebak Bulus belum terlalu banyak. Bara (24), pekerja katering yang tinggal di Ciledug, Tangerang, tampak duduk di tenda ruang tunggu bersama empat anggota keluarganya. Bara dan rombongannya naik bus kelas bisnis menuju Banjarnegara, Jawa Tengah, dengan harga tiket Rp 120.000 per orang. Di hari biasa, tiket kelas bisnis itu hanya seharga Rp 85.000 per orang.

Sementara itu, Rubiah (45), pembantu rumah tangga di Bintaro, bisa mudik ke Kutoarjo, Yogyakarta, dengan membeli tiket seharga Rp 92.000 untuk bus kelas ekonomi khusus Lebaran. Pada hari biasa, mungkin harga tiket itu antara Rp 75.000  dan Rp 80.000 saja per orang. "Tidak apa, yang penting bisa pulang," kata Rubiah.

Menurut Endi, pada H-3 hingga H+7 Lebaran, jumlah pemudik yang dilayani di Terminal Lebak Bulus mencapai 100.000 orang. Selain keamanan calon pemudik dan ketersediaan angkutan mudik, petugas di terminal juga mengawasi penjualan tiket sesuai aturan resmi dari pemerintah dan meniadakan percaloan.

Di sini, berdasarkan pantauan, tidak ada calo karena loket pembelian tiket dan pilihan busnya pun banyak. Jadi, penumpang bebas memilih, tidak perlu antre. "Nanti kalau pas H-3 hingga H-1 terjadi lonjakan penumpang, kami sudah coba antisipasi dengan menyiagakan petugas menghalau calo," kata Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan Teddy L Sutisna.     

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau