Dikti Sediakan Beasiswa Bidang Pariwisata

Kompas.com - 16/09/2009, 21:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pendidikan Kepariwisataan di Indonesia diakui United Nation World Tourism Organization (UN-WTO) sebagai berkelas dunia, menyusul diserahkannya Sertifikat Tourism Education Quality (TEDQUAL) oleh Chief Documentary Resourses UN-WTO, Mr Patrice Tedjini kepada Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, Rabu (16/9) di Jakarta.

"Indonesia peroleh Sertifikat TEDQUAL setelah Themis Foundation yang merupakan lembaga pengembangan sumberdaya manusia pariwisata yang berada di bawah naungan UN-WTO, sejak tahun 2007 telah melaksanakan pre-audit hingga proses audit yang telah dilaksanakan pada November 2008," kata Jero Wacik.

Patrice Terdjini mengatakan, Indonesia dalam hal ini sekolah tinggi pariwisata Bandung dan Bali, adalah institusi pendidikan tinggi kepariwisataan yang ke-4 di kawasan Asia, setelah Hongkong, Macao, dan China yang telah memperoleh Sertifikat TEDQUAL. Sedangkan di Asia Tenggara, Indonesia satu-satunya sekolah tinggi pariwisata yang telah memperoleh Sertifikat TEDQUAL tersebut.

Jero Wacik bercerita panjang bagaimana lika-likunya sampai diakuinya pendidikan kepariwisataan untuk program strata satu (S1), hingga akhirnya meraih sertifikat, sebagai pengakuan kelas dunia. "Betapa pentingnya SDM Pariwisata tidak hanya pada tingkatan tenaga teknis saja, tetapi juga pada tingkatan akademisi/peneliti, teknokrat dan professional. Dan itu hanya bisa kita peroleh apabila ilmu pariwisata telah diakui sebagai ilmu yang mandiri, sejajar dengan ilmu-ilmu lainnya," katanya.

Atas perjuangan Jero Wacik, Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata Republik Indonesia memberikan Hildiktipari Award, yang diserahkan langsung Ketua Hildiktipari Himawan Bramanto.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, Fasli Jalal mengatakan, akan sia-sia kita sebagai bangsa dengan penduduk sekitar 220 juta jiwa, tidak didukung dengan sumberdaya manusia pariwisata. Pariwisata sebagai ilmu murni perlu ditindaklanjuti dengan penelitian-penelitian, penerbitan jurnal-jurnal. "Karena ilmu itu lahir dari pembelajaran yang baik, maka kualitas SDM Pariwisata diharapkan bisa bangkit," katanya.

Untuk memacu penelitian, Fasli Jalal mengungkapkan, bahwa pihaknya menyediakan beasiswa dan blockgrand. Sebanyak 1.700 dosen telah dikirim ke berbagai perguruan tinggi di dunia. Diharapkan kelak, SDM pariwisata bisa meningkat dan berdampak pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia.

"Menyontoh Perancis, jumlah wisatawan yang datang ke negara tersebut mencapai 76 juta orang, melebihi jumlah penduduknya yang sekitar 70 j uta. Dengan SDM pariwisata Indonesia yang berkualitas, diharapkan wisatawan yang berkunjung ke Indonesia bisa mencapai 100 juta orang," paparnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau