JAYAPURA, KOMPAS.com — Kecelakaan pesawat yang beberapa tahun ini kerap terjadi di Papua diyakini akibat kesalahan manusia dan cuaca. Karenanya, pilot dan para teknisi serta petugas penerbangan diminta tidak main-main dalam menjamin keselamatan penumpang.
Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Papua Soleman Wairo, Kamis (17/9) di Kantor Gubernur Papua di Jayapura, saat memperingati Hari Perhubungan Nasional 2009. Tema peringatan itu adalah "Kita budayakan keselamatan transportasi dalam memberikan pelayanan transportasi kepada masyarakat."
Soleman menuturkan, para pilot sering menganggap remeh karena merasa sudah terbiasa terbang di sana. Padahal, cuaca di Papua berubah dengan cepat. Hal serupa juga berlaku bagi pelayaran laut. Ia mencontohkan, nakhoda-nakhoda yang kerap melayari Papua sering menganggap sepele arahan administratur pelabuhan.
Disinggung tentang kelayakan lapangan terbang (lapter) di Papua, ia menjawab, semua lapter di Papua layak untuk didarati. Namun, semuanya tergantung cuaca.
Dinas Perhubungan sendiri saat ini sedang merehab hampir semua lapter dari rumput menjadi aspal. Dengan demikian, bila infrastruktur lapter di lapangan ini sudah siap maka ke depannya program untuk pengadaan pesawat perintis jenis Twin Otter dari Pemprov Papua bisa dilaksanakan, seperti lapter di Borme, Illaga, dan Kepi yang sudah diaspal.
"Infrastrukturnya harus disiapkan untuk keselamatan penerbangan juga. Sehingga pengadaan untuk pesawat kita tidak terlalu sulit. Ada beberapa pangkalan khusus di daerah pegunungan, yang akan didarati," ujarnya.
Saat ini Lapter Dekay-Yahukimo sudah bisa didarati pesawat jenis ATR 27. Namun, pesawat ini baru dipakai khusus untuk bantuan kemanusiaan bagi korban bencana kelaparan di Yahukimo, tetapi secara resmi belum dikomersilkan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang