JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan juara dunia Formula 1 (F1) Niki Lauda memberikan komentar tentang kasus pengaturan balapan yang dilakukan Renault di GP Singapura musim lalu. Menurutnya, tim tersebut harus diberikan hukuman berat untuk mengembalikan kredibilitas olahraga bergengsi tersebut.
Waktu itu, Renault ditengarai mengatur balapan agar Fernando Alonso menjadi juara. Nelson Piquet diperintahkan untuk menabrak, sehingga safety car masuk lintasan. Dengan demikian, Alonso yang baru keluar dari pitstop mengambil keuntungan (karena kecepatan semua pebalap jadi lambat) dan dia akhirnya bisa finis terdepan.
FIA pun melakukan investigasi tentang hal tersebut setelah mendengar pengakuan dari Pique—setelah dia dipecat Renault. Senin depan, World Motor Sport Council (WMSC) akan melakukan hearing untuk mendengarkan "pembelaan" Renault meskipun tim tersebut telah kehilangan Flavio Briatore dan Pat Symonds, yang mundur pada Rabu (16/9).
Dalam hearing tersebut, Renault hanya akan diwakili oleh seorang pengacaranya, yang akan meminta keringanan hukuman.
Namun, menurut Lauda, apa pun alasannya Renault tetap harus dihukum karena kasus ini sangat serius, lebih daripada kasus Michael Schumacher di Monaco 2006, atau kasus mata-mata McLaren tahun 2007. Jika tidak, kredibilitas F1 sebagai olahraga balap mobil terkenal di dunia bisa rusak.
"Ketika pertama kali saya mendengar tuduhan bahwa Renault menyuruh Nelson Piquet melakukan tabrakan, pertanyaan yang muncul adalah apakah itu benar atau tidak," ungkap Lauda kepada Daily Mail.
"Jika benar maka hal tersebut merupakan kejadian yang terburuk di F1."
"Hanya ada satu insiden yang mirip—Michael Schumacher memarkir Ferrari-nya di lintasan balapan di Monaco pada tahun 2006, untuk menghalangi lap terakhir Fernando Alonso saat kualifikasi."
"Tetapi, jujur, itu bahkan tidak bisa dibandingkan."
Lauda juga menambahkan, skandal mata-mata yang dilakukan McLaren dua tahun lalu juga sangat serius. Namun, menurutnya, itu pun tidak seperti yang dilakukan Renault di GP Singapura karena (kasus McLaren) di antara para mekanik selalu berdiskusi tentang data teknis.
"Ini kasus baru dan merupakan kerusakan terbesar yang pernah ada. Sekarang FIA harus menghukum Renault lebih berat untuk mengembalikan kredibilitas olahraga ini."
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang