JAKARTA, Kompas.com - Jangan cari Hermawan Susanto di rumah pada akhir pekan. Mantan atlet bulu tangkis nasional ini tengah berusaha melanggengkan tradisi keluarga di dunia bulu tangkis Indonesia.
Hermawan yang pernah menjadi atlet bulu tangkis nasional pada dekade 1990-an ini memilih untuk berada di Jawa tengah antara Jumat sore hingga Minggu sore. Selama dua hari dalam sepekan, Hermawan yang biasa dipnggil Aim ini mendampingi puteranya, Andrew Susanto yang tengah menuntut ilmu bulu tangkis di PB Djarum Kudus.
"Pokoknya selama dua hari itu, saya menculik Andrew anak saya untuk pergi bersama saya, meninggalkan asrama. Bukan buat jalan-jalan, tetapi saya meanfaatkan waktu bersama itu untuk menambahkan ilmu bulu tangkis," katanya. Bagi Aim, peran sebagai pelatih anaknya ini tidak sulit dilakukan. Ia pernah belasan tahun menghuni asrama pelatnas Cipayung. Sementara saat ini pun, di Jakarta ia menjadi pelatih di PB Mei.
Aim memang menaruh harapan besar kepada anaknya untuk dapat masuk ke percaturan dunia bulu tangkis. Karena itulah saat Andrew mendapat eba siswa untuk belajar di di PB Djarum pada Juli lalu, ia langsung setuju. Apalagi ia mendapat dukungan dari isterinya Sarwendah Kusumawardhani yang juga mantan atlet bulu tangkis nasional. "Meski sebagai ibu saya tahu ia sulit juga berpisah dengan putera tunggal kami itu," kata Hermawan.
Namun darah bulu tangkis membuat Hermawan mengambil kesempatan ini. Apalagi PB Djarum bukan sesuatu yang asing buatnya. Ayahnya, Agus Susanto yang pernah bermain untuk tim Piala Thomas 1967 lalu, masih menjadi pengurus PB Djarum. "Di Djarum, Andrew mendapat sparring yang lebih variatif dibandingkan saat masih bermain di PB Mei," kata Hermawan.
Namun Heramwan tidak mau menerima perkembangan anaknya hanya melalui laporan tertulis dari PB Djarum. Ia kemudian memutuskan mendampingi Andrew antara Jumat sore hingga Minggu sore. "Daripada hari libur pada Sabtu dipakai tidur, ia lebih baik berlatih bersama saya," kata Hermawan. Sejauh ini, ia mengaku puas dengan perkembangan anaknya.
Aim mengaku akan terus mendampingi anaknya untuk lolos ke pelatnas Cipayung. Pengalaman pahitnya semasa menjadi pemain membuat Hermawan mengaku sulit untuk percaya sepenuhnya kepada orang lain. "Dalam proses pemilihan, terkadang ada faktor di luar teknis, apakah itu like and dislike atau hal lainnya. Saya tidak ingin Andrew merasakan hal itu dari sejak dini," katanya.
Oktober ini, Hermawan bersama isternya, Sarwendah Kusumawardhani akan meresemikan klub baru, SBC atau Sarwendah Kusumawardhani badminton Club. Saat ditanya mengapa tidak pakai nama bersama seperi Astec atau Alan (Budi Kusuma)-Susy (Susanty) Technology, Hermawan hanya menjawab, "Sarwendah jauh lebih dikenal daripada saya." Ah Aim...
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang