MOGADISHU, KOMPAS.com — Dua bom bunuh diri mengoyak markas pasukan pemelihara perdamaian Uni Afrika (AU) di Somalia, Kamis (17/9), dan menewaskan 14 prajurit dan melukai 15 orang lainnya.
Markas tersebut terletak di Bandar Udara Mogadishu. Pejuang Islam mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.
"Di antara mereka yang tewas adalah Wakil Komandan AMISOM Mayor Jenderal Juvenal Niyonguruza dari Burundi yang akan segera menyelesaikan masa tugasnya di Somalia," kata juru bicara militer Uganda, Letnan Kolonel Felix Kulayigye.
Sepuluh korban tewas adalah prajurit Burundi, empat lainnya prajurit Uganda. Komandan prajurit pemelihara perdamaian tersebut, Jenderal Nathan Mugisha, yang baru bulan memangku jabatan itu menderita luka ringan.
Sejumlah saksi mata mengatakan, pengebom memasuki kompleks itu dengan menggunakan dua kendaraan yang memiliki lambang PBB. Kulayigye mengatakan, Mugisha rencananya akan menjadi tuan rumah sebuah perundingan di kompleks tersebut. Kedua pengebom, kata Kulayigye, memasuki kompleks bersama sekelompok orang yang datang untuk mengikuti perundingan.
Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengutuk ledakan tersebut. Sementara itu, Etiopia, yang beberapa waktu lalu mengirim tentara guna meningkatkan pasukan pemerintah, menyerukan campur tangan segera internasional.
Juru bicara Pemerintah Somalia, Abdulkadir Walayo, juga mengutuk serangan teror itu. Ia mengatakan, serangan dilakukan dua penjahat yang menggunakan mobil PBB yang dicuri.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang