Cara Taliban Memusnahkan Pasukan Barat

Kompas.com - 20/09/2009, 06:09 WIB

KABUL, KOMPAS.com - Pemimpin gerakan Taliban mengeluarkan peringatan pada Sabtu (19/9) kepada pasukan Barat di Afghanistan bahwa kekalahan akan datang sebentar lagi dan mereka sebaiknya belajar dari pelajaran sejarah.
    
Beberapa pekan sebelum ulang tahun kedelapan invasi pimpinan AS yang menggulingkan rezim Taliban, Mullah Omar melukiskan Afghanistan sebagai kuburan bagi pasukan "kolonial."
    
Dalam pernyataan yang dikeluarkan untuk menandai Idul Fitri, ia merujuk kepada "korban besar dan moral merosot" di antara lebih 100.000 serdadu NATO pimpinan Amerika Serikat di Afghanistan untuk memerangi pemberontakan terkait Taliban.
    
"Semakin bertambah pasukan musuh, semakin mereka menghadapi kekalahan di Afghanistan," demikian pernyataan tersebut.  Pemberontak terkait Taliban telah bangkit dalam beberapa bulan terakhir, mundur dari medan pertempuran tetapi mereka meningkatkan penggunaan bom-bom di tepi jalan khususnya di bagian selatan negeri itu.
    
Tahun ini lebih 350 serdadu asing tewas di Afghanistan, yang membuatnya tahun paling mematikan sejak invasi 7 Oktober 2001. ISAF mengatakan Sabtu bahwa seorang serdadu -- yang kewarganegaraannya tidak diberikan - tewas dalam kontak senjata di bagian selatan Afghanistan,
    
Pada Kamis enam serdadu Italia dan sedikitnya 10 warga sipil Afghanistan tewas dalam serangan bunuh diri di Kabul.  Serangan itu mendorong Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi untuk mengurangi serdadunya di Afghanistan meskipun hanya dengan persetujuan para mitranya di NATO.
    
"Kami ingin sekali membawa pulang pasukan kami sesegera mungkin," ujar Berlusconi.
    
Omar merupakan pendiri Taliban dan sering disebut-sebut sebagai "panglima tertinggi." Ia diduga kuat berada di Pakistan.
    
Omar mengatakan bahwa dengan tetap membiarkan para serdadunya di Afganistan, masyarakat internasional "hanya akan memperpanjang krisis yang terjadi saat ini tetapi tak pernah menyelesaikannya."
    
"Para penyerbu hendaknya belajar dari sejarah Afghanistan sejak agresi Alexander hingga gang-gang dahulu kala dan sampai hari ini dan hendaknaya belajar dari hal tersebut," begitu bunyi pernyataannya dalam versi bahasa Inggris.
    
Sementara opini publik di AS dan Inggris menolak pengerahan pasukan di Afghanistan, para pemimpin politik dan militer masih tetap bertekad memerangi Taliban dan AS diperkirakan akan meningkatkan jumlah serdadunya dalam beberapa bulan mendatang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau