WASHINGTON, KOMPAS.com — Presiden AS Barack Obama berharap dapat menghidupkan kembali proses perdamaian Timur Tengah pekan ini dalam pembicaraan tiga pihak dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Palestina Mahmud Abbas.
Pemimpin AS tersebut dijadwalkan bertemu secara terpisah dengan kedua pejabat Timur Tengah itu, Selasa (22/9), selama berlangsung Sidang Majelis Umum PBB, sebelum menjamu pertemuan tingkat tinggi tiga pihak.
Menurut juru bicara Gedung Putih Robert Gibbs, pembicaraan itu akan menjadi upaya "untuk meletakkan landasan kerja bagi peluncuran kembali perundingan, dan menciptakan konteks positif bagi perundingan itu sehingga mereka dapat berhasil."
Pertemuan tiga pihak tersebut menandai pertemuan tingkat tinggi pertama antara ketiga pemimpin itu sejak Obama memangku jabatan di Gedung Putih pada Januari, dengan ikrar akan menciptakan perdamaian yang sukar dilaksanakan di Timur Tengah sebagai prioritas pemerintah baru Partai Demokratnya.
Dan itu dilakukan setelah utusan baru AS untuk Timur Tengah George Mitchell kembali dengan tangan hampa dari satu misi ke wilayah itu setelah gagal membujuk para pemimpin Israel agar membekukan pembangunan permukiman baru.
Seorang pejabat pemerintah AS mengingatkan agar semua pihak tak menaruh harapan mengenai terobosan atau kesepakatan. Menurut pejabat itu, Obama, yang bertemu secara terpisah dengan Netanyahu dan Abbas untuk mengadakan pembicaraan di Gedung Putih pada Mei, berpendapat penting untuk mempertemukan kedua pemimpin di dalam satu ruangan "untuk terus berusaha menjembatani jurang pemisah dan perbedaan."
Pejabat itu, yang meminta tak disebutkan jatidirinya, juga berpendapat penting bahwa pembicaraan tiga pihak diselenggarakan segera setelah serangan yang memorak-porandakan terhadap Jalur Gaza pada Desember dan pembentukan pemerintah baru Israel.
Kantor Netanyahu menyatakan, Perdana Menteri Israel tersebut "telah menanggapi secara positif" atas undangan Obama. Juru runding senior Palestina Saed Erakat juga telah mengonfirmasi bahwa Abbas akan menghadiri pertemuan itu.
"Kami harap pertemuan ini akan menjadi peluang bagi Presiden Obama untuk mendengarkan sudut pandang yang berbeda dan memahami siapa yang menghalangi perundingan," kata Erakat.
Seorang pejabat Pemerintah Otonomi Palestina yang tak ingin disebutkan jatidirinya mengatakan, pertemuan tersebut bukan merupakan kelanjutan pembicaraan perdamaian dengan Israel.
"Itu akan menjadi pertemuan resmi karena kami tak ingin mengecewakan pemerintah Amerika, yang ingin menyelenggarakannya," kata pejabat tersebut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang