Puluhan Warga Tolak Husamudin Dimakamkan di Purbalingga

Kompas.com - 23/09/2009, 15:22 WIB

PURBALINGGA, KOMPAS.com — Puluhan warga yang mengatasnamakan masyarakat Kutasari, Rabu (23/9), berunjuk rasa di halaman Balai Desa Karangreja, Kecamatan Kutasari, Purbalingga, Jawa Tengah, menolak rencana pemakaman jenazah tersangka teroris Husamudin alias Ario Sudarso di pemakaman setempat.

Pengunjuk rasa yang sebagian besar berasal dari Desa Karangtenggak ini membawa spanduk yang digelar bertuliskan "Warga Masyarakat Menolak Pemakaman Teroris Mistam di Wilayah Kecamatan Kutasari Purbalingga".

"Kami menolak pemakaman jenazah teroris Aji alias Ario Sudarso alias Mistam alias Husamudin di wilayah Kutasari, khususnya di Desa Karangreja," kata koordinator aksi, Imam Sakirin. Sebagai seorang Muslim, kata dia, Husamudin tidak pantas membunuh secara brutal hanya dengan alasan benci terhadap Amerika.

Pengunjuk rasa yang menolak pemakaman tersebut nyaris bentrok dengan puluhan warga Desa Karangreja yang telah menyetujui jenazah Husamudin dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Karangreja.

Terkait rencana pemakaman Husamudin, Kepala Desa Karangreja Iwan Mugiarto mengatakan, rencana tersebut berdasarkan hasil musyawarah antara warga, pemerintah desa, Badan Perwakilan Desa, dan Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa Karangreja.

"Alasan kami menerima rencana pemakaman tersebut karena Husamudin adalah resmi sebagai warga Karangreja sehingga memiliki hak kewarganegaraan, salah satunya dimakamkan di Karangreja. Pemakaman ini juga atas dasar alasan kemanusiaan dan sesama Muslim," katanya.

Menurut dia, menerima pemakaman Husamudin tidak berarti warga masyarakat Karangreja memiliki pemahaman yang sama dengan paham yang dianut oleh Husamudin.

Meski sempat saling berhadapan dan nyaris bentrok, kelompok masyarakat yang menolak rencana pemakaman tersebut akhirnya membubarkan diri dengan pengawalan ketat puluhan personel Polres Purbalingga.

Sementara itu, spanduk yang berisikan penolakan rencana pemakaman Husamudin yang dibawa pengunjuk rasa akhirnya dibakar di halaman Balai Desa Karangreja.

Sebelumnya, pada Rabu (23/9) pagi sekitar pukul 08.00 WIB, sebuah selebaran berisi penolakan rencana pemakaman Husamudin ditemukan tertempel di Pos Satpam Taman Wisata Reptil Bojongsari, Purbalingga.

Selebaran tersebut bertuliskan "Atas nama warga Kutasari menyatakan penolakan atas jenazah Mistam. Ingat? Teroris telah mencoreng umat Islam dengan alasan apa pun tetap kami tolak".

Seperti yang diwartakan sebelumnya, istri Husamudin, Titi Rochyati (31), dibantu kerabat dan warga Desa Karangreja telah menyiapkan liang lahat bagi Husamudin di pemakaman desa setempat, Jumat (18/9).

Husamudin alias Mistam alias Aji alias Ario Sudarso tewas dalam penyergapan terhadap Noordin M Top oleh Densus 88 di Solo pada Kamis (17/9) pekan lalu.

Jenazah Husamudin akan dijemput keluarga di Jakarta pada hari Jumat (25/9) untuk dimakamkan di Purbalingga.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau