Osteoporosis, Lebih Baik Dicegah

Kompas.com - 23/09/2009, 21:02 WIB

BEIJING, KOMPAS.com - Meskipun ancaman osteoporosis akan semakin meningkat di kalangan penduduk Asia di masa depan, penyakit  tersebut sebenarnya sangat mudah untuk dicegah. Karena itu, program pencegahan dengan menjaga kesehatan tulang sejak usia muda  mesti menjadi fokus untuk melawan osteoporosis massal.

Dalam pandangan masyarakat awam, osteoporosis itu hanya perlu dikhawatirkan ketika usia tua. Tetapi dalam kenyataannya sekarang, banyak orang usia muda 15-25 tahun yang sudah didiagnosa memiliki gejala osteoporosis.

Ice Tjetjep Suparman, Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi) di sela-sela konferensi dunia komunitas pemerhati osteoporosis di Beijing, Rabu (23/9), mengatakan dari pemeriksaan kesehatan tulang yang dilakukan kepada berbagai kalangan masyarakat, ditemukan orang  muda berusia 13-24 tahun sudah mengalami pengapuran pada tulangnya. Sedikitnya sekitar 1.500 orang muda dideteksi memiliki gejala osteoporosis dari pemeriksaan terbatas.

Gitara Siahaan, dari bidang pendidikan Perwatusi, mengatakan orang-orang muda berpikir mereka tidak terancam osteporosis karena penyakit itu diyakini terjadi saat usia lanjut. Tetapi pola hidup yang tidak sehat sejak muda seperti merokok, makan-makanan junk food, tidak berolah raga menyebabkan kondisi tulang tidak prima.

"Kami berusaha untuk menjangkau orang-orang muda juga supaya mereka menabung kalsium dan vitamin D sejak muda. Supaya di masa tuanya. mereka tidak mengalami ancaman osteoporosis karena tulang kurang  mineral-mineral yang dibutuhkan." kata  Gitara.

Joanne Todd, Health Platform Manager Fonterra, menjelaskan kesadaran soal ancaman osteoporosis mesti terus dilakukan. Dukungan kuat itu terutama datang dari komunitas-komunitas masyarakat atau profesional kesehatan yang peduli terhadap beban yang ditimbulkan penyakit itu.

Dari hasil audit International Osteoporosis Foundation yang baru diluncurkan, ditemukan fakta bahwa osteoporosis akan menjadi penyakit serius di kalangan penduduk Asia. Diperkiarakan sebanyak 50 persen osteoporosis di dunia terjadi di Asia pada tahun 2050.

Osteoprosis menyebakan penderitaan yang bisa menimbulkan kecacatan hingga kematian. Banyak kejadian patah tulang pinggul, pasien meninggal saat serangan di tahun pertama.

"Osteoporosis sangat bisa dicegah. Dengan menjalankan diet yang sehat,namun  tetapi memperhatiakn asupan dengan vitamin D dan kalsium yang cukup, olah raga cukup sepanjang hidup, secara signifikan dapat mengurangi osteoporosis di masa mendatang," kata Joanne.

Untuk orang yang menderita osteoporosis juga tetap dapat menjaga kesehatan tulang. Bukan berarti kalau didiagnosa osteoporosis mereka langsung pasti patah tulang.

Penderita osteoporosis dapat memulihkan kesehatan tulang dengan  mengkonsumsi kalsium yang cukup meskipun diet, vitamin D, melakukan latihan fisik secara regular dan tepat, meminimalkan risiko jatuh, berhenti merokok, tidak minum alkohol berlebihan, serta mengkonsumsi obat antitulang patah yang diresepkan dokter jika diperlukan.

Cyrus Cooper, Chair International Osteoporosis Foundation of Scientific Advisors, mengatakan osteoporosis sudah harus menjadi perhatian soal masalah kesehatan.Pemerintah mesti membantu masyarakat untuk mampu memenuhi kebutuhan vitamin C dan kalsium, terutama bagi kalangan masyarakat tidak mampu dan yang berada di pedesaan.

"Memang di sejumlah negara sudah ada sinyal posistif. Osteoporosis sudah diakui sebagai masalah kesehatan yang perlu ditangani serius dengan menyiapkan program pencegahan dan perawatan. Pemerintah yang belum menyadari ancaman osteoporosis bagi penduduk di negaranya, mesti diyakinkan dengan prevelansi data penderita dan beban ekonomi sosial yang timbul," kata Cyrus.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau