Asisten Ekonomi Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah Srijadi, di Kabupaten Semarang, Kamis (24/9), menyebutkan, perputaran uang selama masa Lebaran di Jawa Tengah diperkirakan mencapai Rp 1,4 triliun. Jumlah itu baru mencakup konsumsi masyarakat dan pendatang, belum termasuk investasi dan zakat yang disalurkan. Pada hari-hari biasa, perputaran uang untuk keperluan seperti itu diperkirakan hanya 25-30 persen dari situasi pada masa Lebaran. Srijadi menyebutkan, jumlah Rp 1,4 triliun didapat dari mengalikan 2,9 juta pemudik dengan besaran uang rata-rata yang digunakan Rp 500.000. ”Itu baru hitungan minimal. Kalau uang yang dibelanjakan lebih dari Rp 500.000, jumlahnya jauh lebih tinggi. Belum lagi zakat yang dibayarkan dan investasi seperti membeli ternak di kampung halaman,” ujar Srijadi. Perputaran uang itu, menurut Srijadi, tersebar di sejumlah wilayah di Jateng. Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo berharap ke depan setiap daerah harus memiliki kawasan khusus yang menarik pemudik. Misalnya, tempat wisata atau kluster kekhasan daerah. ”Inovasi baru akan menarik minta pemudik untuk berkunjung ke sejumlah tempat. Hal itu akan berdampak positif pada perekonomian daerah,” kata Bibit. Pemimpin Bank Indonesia Semarang Zaeni Aboe Amin mengatakan, nominal pertukaran uang di kantor BI Semarang hingga minggu ketiga September Rp 113,1 miliar. Rata-rata setiap hari 2.500 orang menukar uang pecahan di BI Semarang. Di Bandung, Jawa Barat, pedagang bahan pokok musiman pasca-Lebaran menjamur di sejumlah pasar tradisional. Mereka memanfaatkan sepinya pasar karena sebagian besar pedagang asli belum kembali dari kampung halaman masing-masing. Entis (34), pedagang daging ayam di Pasar Cihaurgeulis, misalnya, mengaku hanya jadi pedagang sejak dua hari sebelum Lebaran hingga sepekan setelah Idul Fitri. ”Biasanya, saya hanya berjualan nasi di sekitar pasar. Tapi, karena banyak pedagang ayam belum pulang dari kampung, saya coba berjualan ayam dan ternyata hasilnya lebih menjanjikan,” kata Entis, warga Cicadas, Bandung. Dengan berjualan ayam, dia mengaku mendapat untung Rp 50.000 per hari, lebih besar daripada keuntungan berdagang nasi, yaitu Rp 35.000 per hari. Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Jabar Dadang Suganda mengatakan, fenomena pedagang musiman saat Lebaran ibarat sudah menjadi tradisi. Bahkan, peran pedagang musiman itu cukup besar untuk menekan harga dengan memenuhi suplai kebutuhan pokok kepada konsumen. Pemudik di Daerah Istimewa Yogyakarta cenderung memilih jajanan khas yang lebih tradisional sebagai oleh-oleh. Penjaja oleh-oleh di Kabupaten Gunung Kidul pun mengedepankan nilai tradisional untuk menarik minat pemudik. Penjual makanan tradisional memang bersaing menonjolkan kekunoan dari makanan tradisional. Mereka memasang tahun awal perintisan aneka makanan khas Yogyakarta, seperti bakpia, tiwul, dan produk makanan olahan singkong. ”Makin tradisional, makin menarik untuk oleh-oleh,” kata seorang pemudik yang berdiam Bekasi, Jawa Barat.