Ekonomi Rakyat Bergairah

Kompas.com - 25/09/2009, 05:23 WIB
 
 

SEMARANG, KOMPAS.com - Tradisi mudik Lebaran Idul Fitri membawa dampak positif terhadap perekonomian masyarakat di daerah-daerah. Meskipun terbilang sementara, interaksi antara pemudik dan usahawan informal setidaknya memacu perputaran uang di daerah bersangkutan.

Asisten Ekonomi Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah Srijadi, di Kabupaten Semarang, Kamis (24/9), menyebutkan, perputaran uang selama masa Lebaran di Jawa Tengah diperkirakan mencapai Rp 1,4 triliun. Jumlah itu baru mencakup konsumsi masyarakat dan pendatang, belum termasuk investasi dan zakat yang disalurkan.

Pada hari-hari biasa, perputaran uang untuk keperluan seperti itu diperkirakan hanya 25-30 persen dari situasi pada masa Lebaran.

Srijadi menyebutkan, jumlah Rp 1,4 triliun didapat dari mengalikan 2,9 juta pemudik dengan besaran uang rata-rata yang digunakan Rp 500.000.

”Itu baru hitungan minimal. Kalau uang yang dibelanjakan lebih dari Rp 500.000, jumlahnya jauh lebih tinggi. Belum lagi zakat yang dibayarkan dan investasi seperti membeli ternak di kampung halaman,” ujar Srijadi.

Perputaran uang itu, menurut Srijadi, tersebar di sejumlah wilayah di Jateng.

Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo berharap ke depan setiap daerah harus memiliki kawasan khusus yang menarik pemudik. Misalnya, tempat wisata atau kluster kekhasan daerah.

”Inovasi baru akan menarik minta pemudik untuk berkunjung ke sejumlah tempat. Hal itu akan berdampak positif pada perekonomian daerah,” kata Bibit.

Pemimpin Bank Indonesia Semarang Zaeni Aboe Amin mengatakan, nominal pertukaran uang di kantor BI Semarang hingga minggu ketiga September Rp 113,1 miliar. Rata-rata setiap hari 2.500 orang menukar uang pecahan di BI Semarang.

Pedagang musiman

Di Bandung, Jawa Barat, pedagang bahan pokok musiman pasca-Lebaran menjamur di sejumlah pasar tradisional. Mereka memanfaatkan sepinya pasar karena sebagian besar pedagang asli belum kembali dari kampung halaman masing-masing.

Entis (34), pedagang daging ayam di Pasar Cihaurgeulis, misalnya, mengaku hanya jadi pedagang sejak dua hari sebelum Lebaran hingga sepekan setelah Idul Fitri.

”Biasanya, saya hanya berjualan nasi di sekitar pasar. Tapi, karena banyak pedagang ayam belum pulang dari kampung, saya coba berjualan ayam dan ternyata hasilnya lebih menjanjikan,” kata Entis, warga Cicadas, Bandung.

Dengan berjualan ayam, dia mengaku mendapat untung Rp 50.000 per hari, lebih besar daripada keuntungan berdagang nasi, yaitu Rp 35.000 per hari.

Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Jabar Dadang Suganda mengatakan, fenomena pedagang musiman saat Lebaran ibarat sudah menjadi tradisi. Bahkan, peran pedagang musiman itu cukup besar untuk menekan harga dengan memenuhi suplai kebutuhan pokok kepada konsumen.

Pemudik di Daerah Istimewa Yogyakarta cenderung memilih jajanan khas yang lebih tradisional sebagai oleh-oleh. Penjaja oleh-oleh di Kabupaten Gunung Kidul pun mengedepankan nilai tradisional untuk menarik minat pemudik.

Penjual makanan tradisional memang bersaing menonjolkan kekunoan dari makanan tradisional. Mereka memasang tahun awal perintisan aneka makanan khas Yogyakarta, seperti bakpia, tiwul, dan produk makanan olahan singkong. ”Makin tradisional, makin menarik untuk oleh-oleh,” kata seorang pemudik yang berdiam Bekasi, Jawa Barat. (UTI/ILO/GRE/BAY/ENG/ARA/PRA/WKM)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau