Bali Kehabisan Stok Vaksin Antirabies

Kompas.com - 25/09/2009, 09:07 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com — Kasus rabies di Pulau Dewata kembali memakan korban. Sejak Januari hingga Kamis (24/9), sebanyak 13 orang meninggal setelah digigit anjing gila. Korban-korban tersebut berasal dari empat kabupaten/kota dari sembilan kabupaten/kota di Bali, yaitu Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan.

Oleh karena itu, Dinas Kesehatan Provinsi Bali menyatakan, kasus rabies serius dan tidak terkendali karena meluasnya daerah terancam.

Sayangnya, pernyataan tersebut tidak dibarengi dengan persediaan vaksin antirabies yang cukup. Bahkan, seluruh rumah sakit, termasuk Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah sebagai rumah sakit rujukan, pun kehabisan vaksin.

Tersedia 150 vaksin

Ketua Tim Pengendali Rabies Rumah Sakit Sanglah Dokter Ken Wirasandhi membenarkan habisnya stok vaksin tersebut. Padahal, sejak awal tahun ini setiap hari tersedia sedikitnya 150 vaksin antirabies.

Ken mengaku telah meminta dari pusat untuk mengirim kan sejumlah vaksin sebagai persediaan sebelum libur Le- baran. ”Namun, sampai hari ini kami belum menerima kiriman tersebut dan katanya kiriman tersendat karena kendala transportasi sebagai dampak dari arus mudik,” tutur Ken.

Ia menambahkan bahwa habisnya stok vaksin tersebut dikarenakan semakin ting- ginya jumlah pasien yang berobat. Apalagi kasus rabies merebak cepat ke empat daerah yang tidak diperkirakan sebelumnya.

Oleh karena itu, Ken sekarang ini khawatir, apabila habisnya vaksin tidak segera tertangani, keadaan akan semakin memburuk.

Alasannya, vaksin tidak hanya dibutuhkan bagi pasien korban gigitan anjing gila yang baru masuk saja. ”Pasien yang sudah ada sebelumnya juga membutuhkan vaksin lanjutan hingga tiga kali,” ujarnya.

Di Tabanan

Hal serupa juga menjadi kekhawatiran Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan Ketut Sumiarta. Ia menjelaskan, stok vaksin antirabies terakhir yang dimiliki Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan sudah dia kirimkan ke Rumah Sakit Umum Daerah Tabanan sebanyak 100 dosis, kemarin (Kamis, 24/9).

Ia menambahkan, Dinas Kesehatan Tabanan saat ini masih menunggu kiriman dari Jakarta sebanyak 250 dosis vaksin tambahan. Sejak kasus rabies merebak di Tabanan sebulan terakhir, Dinas Kesehatan Tabanan telah menghabiskan sebanyak 2.025 dosis vaksin untuk menangani pasien korban gigitan anjing gila.

Berdasarkan catatan, ada 14.700 kasus gigitan anjing di Bali; dari angka tersebut, 5.800 vaksin antirabies telah habis. Sementara itu, Pemerintah Pro- vinsi Bali telah mengucurkan dana sekitar Rp 5 miliar untuk penanganan meluasnya rabies. (AYS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau