BANDA, KOMPAS.com — Wakil presiden terpilih, Boediono, akan dianugerahi gelar adat tertinggi Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, yang biasa disebut Kepala "Oranglima" Utama pada kunjungannya ke daerah ini, Jumat (25/9).
Tokoh masyarakat Banda, Des Alwi, di Bandaneira, Jumat, mengatakan, gelar berdasarkan rumpun adat Maluku "Patalima" itu bertujuan untuk menjadikan Boediono sebagai pelindung budaya Banda yang dijunjung tinggi selama 500-an tahun terakhir ini.
"Tokoh masyarakat dan adat Banda bertekad melestarikan budaya Banda yang telah ditetapkan UNESCO sebaga salah satu warisan budaya dunia dengan kehormatan dianugerahkan bagi Boediono karena kapasitasnya sebagai wapres (terpilih) menjadi pelindung," ujarnya.
Apalagi, menurut Des Alwi, saat perbincangannya dengan Boediono di Jakarta beberapa waktu lalu, ia tertarik mengunjungi Banda sebelum dilantik menjadi wapres guna melihat "saksi" sejarah, seperti peninggalan Belanda dan Portugis.
"Esensi strategis kehadirannya selama dua hari di Banda adalah melihat rumah Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Cipto Mangungkusumo, dan sejumlah tokoh nusantara lainnya yang dibuang ke Banda saat zaman penjajah," katanya.
Gelar adat akan dianugerahkan bagi Boediono di lokasi "Parigi Rante" sebagai tempat pembantaian puluhan pejuang dan 40 "Orang Kaya" (gelar kebangsawanan) Banda pada 8 Mei 1621 atas perintah Gubernur Jenderal Jan Pieter Zoon Coen dari VOC.
Boediono juga dijadwalkan mengunjungi rumah ataupun pulau Mohammad Hatta dan Sultan Sjahrir yang masih terawat baik sehingga menjadi pesona wisata menarik bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Dalam kunjungan ke Banda, dia juga dijadwalkan mengunjungi istana mini, rumah Cipto Mangunkusumo, gereja tua, rumah budaya, agrowisata pala, gunung api, benteng Belgica, dan tabur bunga di Teluk Lautaka.