Sebanyak 50 Fotografer Dunia Ramaikan Lomba Balapan Sapi

Kompas.com - 26/09/2009, 22:02 WIB

PADANG, KOMPAS.com--Sebanyak 50 fotografer dunia asal Singapura, Malaysia, Vietnam, Filipina, dan juga Indonesia turut meramaikan Lomba Pacu Jawi atau balapan sapi di Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumbar pada 30 September 2009.

"Para fotografer dunia itu tergabung dalam situs fotografi terbesar di negaranya masing-masing dan mereka hanya mengirim maksimal 11 orang senior fotografer terpilih," kata Pendiri Masyarakat Peduli Pariwisata Sumbar (MAPPAS) Yulnofrins Napilus di Padang, Sabtu.

Pembatasan peserta dimaksudkan agar peserta bisa berkonsentrasi memotret. Peserta akan membidik objek-objek wisata alam dan budaya selama enam hari dan lima malam di Sumbar. Mereka dijadwalkan tiba di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padang mulai tanggal 27 Oktober 2009.

Peserta akan kembali ke negaranya masing-masing pada 2 Oktober 2009 dan pada hari terakhir mereka akan menikmati indahnya pantai di Pulau Sekuai Kota Padang, Sumbar.

Ia menjelaskan, Sumbar merupakan ’surga’ bagi dunia fotografi dan makin menarik dikunjungi setelah adanya sosialisasi yang terus menerus ke seluruh dunia yang dilakukan Situs Fotografi Pariwisata Sumbar, yaitu www.west-sumatra.com bersama dengan warga yang hobi fotografi.

"Itu peluang langka untuk mempromosikan parwisata Sumbar, karena para senior fotografer tersebut ketika kembali ke negaranya masing-masing, akan memposting hasil jepretannya ke berbagai situs fotografi dan berbagai media," katanya.

Keuntungan lain yang bakal diperoleh Sumbar, hasil jepretan mereka juga diikutsertakan dalam lomba-Lomba fotografi di berbagai negara.

"Kesempatan yang sangat bagus itu perlu difasilitasi Pemprov Sumbar dan daerah dengan baik, serta menampilkan berbagai kesenian tradisi. Aktraksi Pacu Jawi juga akan menampilkan beberapa kesenian tradisional yang jarang ditampilkan," katanya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tanah Datar Alfian Jamrah menjelaskan ’pacu jawi’ merupakan salah satu potensi pariwisata yang selama ini tersimpan, namun potensial untuk dikembangkan menjadi objek pariwisata bernuansa budaya tradisional.

"Pacu jawi merupakan atraksi permainan anak nagari di Kabupaten Tanah Datar. Pacu Jawi pada awalnya merupakan kegiatan pengisi waktu, saat musim tanam tiba. Berbeda dengan karapan sapi di Madura yang diselenggarakan di arena kering," katanya.

Pacu Jawi di Tanah Datar digelar di areal persawahan sehabis panen dalam kondisi arena berlumpur. Uniknya, pacu jawi dilombakan bukan dengan pasangan lawan sebagaimana layaknya perlombaan, tetapi hanya dilepas satu pasang setiap lomba.

Seorang joki mengendarai sepasang jawi yang diapit dengan peralatan pembajak sawah sambil memegang tali dan ekor kedua sapi. Ketika joki ingin berlari cepat, dia akan menggigit ekor-ekor sapi. Semakin cepat sapi itu berlari, semakin keras dia harus menggigit ekor sapi.

"Pemenang pacu jawi dinilai dari siapa yang berlari paling lurus tanpa berbelok ke samping. Biasanya dalam satu perlombaan akan terlihat banyak sapi yang berbelok, bahkan sampai berpindah ke sawah lain. Adegan itu sangat menghibur masyarakat," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau