Kereta wisata

Sepur Kluthuk Jaladara Resmi Beroperasi

Kompas.com - 28/09/2009, 11:10 WIB

Solo, Kompas - Impian Pemerintah Kota Solo untuk menghidupkan kembali jalur kereta api yang melintasi dalam kota kini terwujud. Menteri Perhubungan Jusman Safeii Djamal meresmikan pengoperasian kereta wisata yang menggunakan kereta uap kuno tersebut pada Minggu (27/9).

Pengoperasian kereta uap yang menggunakan lokomotif warna hitam jenis C1218 buatan Jerman tahun 1896 tersebut dilaksanakan secara simbolis di rel kereta api di depan rumah dinas Wali Kota. Pemkot Solo menamakan kereta wisata itu Sepur Kluthuk Jaladara.

Ditandai dengan pembukaan selubung yang menutup badan kereta dan pemecahan kendi, Menhub didampingi Wali Kota Solo Joko Widodo dan Wakil Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo meresmikan pengoperasian sekaligus menggunakan Sepur Kluthuk Jaladara melintasi sebagian Jalan Slamet Riyadi Solo.

Saat kereta api tersebut berjalan, Menhub, Wali Kota, dan Wakil Wali Kota melambaikan tangan kepada ratusan masyarakat yang datang melihat dari dekat pengoperasian kereta wisata tersebut. Lokomotif hitam besar yang menarik dua gerbong kayu kuno menjadi tontonan masyarakat.

Ide pengoperasian kereta wisata tersebut disampaikan Wali Kota Solo kepada Menhub sejak dua tahun lalu saat memantau mudik Lebaran. Jusman berharap rute kereta wisata ini tidak hanya melintasi Kota Solo, tetapi diteruskan hingga ke Wonogiri.

"Beliau (Joko) memaparkan rencana bagaimana kalau jalan kereta api yang membelah Kota Solo ini, satu-satunya jalan kereta api yang masih tersisa dan masih ada, dihidupkan kembali dan dioperasikan kereta api yang juga sudah tua, untuk memperlihatkan bahwa di Solo antara masa lalu, masa kini, dan masa depan bertemu dan menjadi bagian penting," ujar Menhub.

Menhub memberikan apresiasi terhadap prakarsa Joko Widodo menghidupkan kembali jalur kereta api di tengah Kota Solo. Dia berharap inisiatif seperti itu diikuti pimpinan daerah di tempat lain dengan menampilkan keunikan di daerah masing-masing.

Sepur Kluthuk Jaladara juga merupakan kereta uap yang tadi dioperasikan di Jalur Ambarawa-Jambu, Bedono, dibawa ke Solo. (SON)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau