KOMPAS.com — Tidak disangkal bahwa binatang merupakan bagian dari hidup kita. Binatang peliharaan, seperti anjing dan kucing, dapat menciptakan rasa nyaman, persahabatan, dan membuat hidup kita lebih berarti.
Binatang liar di alam bebas pun membantu menjaga keseimbangan ekosistem dengan peran yang sering kali tak kita sadari, seperti mengontrol populasi serangga dan tikus.
Salah satu aspek dari hubungan kita dengan binatang yang sering kali tidak disadari adalah adanya virus rabies yang mematikan di tubuh binatang peliharaan ataupun binatang liar. Mereka dapat menularkannya ke manusia. Rabies dapat memberi ancaman serius bagi kesehatan manusia atau binatang. Apabila tidak ditangani dengan benar, semua kasus rabies adalah mematikan.
Dari data yang dilaporkan ke Departemen Kesehatan, setiap tahun sekitar 12.500 kasus gigitan hewan penular rabies terjadi di seluruh Indonesia. Pada tahun 2008 sebanyak 9.000 kasus mendapat suntikan antirabies dan 73 orang di antaranya meninggal dunia.
Namun, sejak November 2008 terjadi peningkatan kasus yang luar biasa di Pulau Bali, yaitu tercatat 14.000 kasus gigitan dan 13 orang di antaranya meninggal dunia. Menjadi tugas berat kita bersama untuk kembali membebaskan Bali, sebagai daerah tujuan wisata, dari penyakit rabies.
Dari binatang
Rabies tidak menular dari manusia ke manusia. Manusia terinfeksi rabies dari binatang melalui gigitan atau cakaran. Binatang liar yang sering membawa virus rabies adalah rakun, rubah, sigung, monyet, dan kelelawar. Di Amerika lebih dari 90 persen penularan rabies berasal dari binatang liar. Sayang, data ini tidak terdapat di Indonesia, tetapi sebagian kasus rabies di Indonesia disebabkan oleh gigitan anjing, baik anjing berpemilik maupun anjing liar.
Ancaman rabies tidak terbatas lokasi. Binatang, khususnya anjing dan kucing, yang dapat menularkan rabies dapat ditemukan di sekitar kita dan di mana manusia biasa berkumpul, seperti di tempat rekreasi, restoran, dan tempat umum lainnya. Walaupun binatang liar tersebut mati, mayatnya masih mungkin menularkan rabies. Virus rabies dapat tetap hidup dalam air liur binatang yang mati tersebut untuk beberapa waktu. Virus bisa berpindah ke manusia atau ke binatang yang menyentuhnya.
Perlu perhatian juga untuk kelelawar yang bisa ditemukan di mana saja, dekat dengan manusia, terutama mereka yang hobi melakukan kegiatan luar ruang, seperti berkemah, ke gua, dan ke alam yang banyak pepohonan, harus waspada.
Mengingat virus rabies bisa ada di sekitar kita, baik di sekitar rumah tinggal, tempat kerja, tempat bermain, maupun sekolah, virus ini bisa mengancam kita dan orang-orang yang kita sayangi. Para orang tua, pemilik anjing atau kucing, dan semua anggota masyarakat harus melakukan tindakan melindungi binatang peliharaan dan anggota keluarga kita dari rabies.
Departemen Kesehatan bersama Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian dan lintas sektor terkait telah membentuk tim koordinasi rabies dan di beberapa daerah dibentuk rabies center untuk menangani kasus-kasus gigitan dan mereka yang memerlukan vaksin antirabies. Dinas peternakan melakukan vaksinasi kepada anjing-anjing, khususnya yang berpemilik. Para dokter hewan yang memiliki klinik pun telah membantu memvaksinasi hewan peliharaan. Namun, masih banyak yang harus dilakukan oleh kita semua untuk memberantas dan mencegah penyebaran rabies di daerah kita. Hal ini tergantung kita semua untuk saling mendukung dan mengendalikan penyebarluasan rabies.
Para penguasa perlu mendukung kegiatan ini dengan penyediaan dana operasional yang memadai. Para pengusaha swasta pun dapat membantu mempercepat vaksinasi anjing di wilayah sekitar perusahaannya. Dukungan dari para akademisi, peneliti, dan para pakar jelas sangat dibutuhkan. Setiap orang dapat berperan untuk memberantas penyakit ini.
Masyarakat yang membutuhkan informasi lebih lanjut tentang rabies dapat menghubungi Subdirektorat Zoonosis Departemen Kesehatan di nomor telepon 021-4201255, Pusat Komunikasi Publik Departemen Kesehatan di nomor telepon 021-529074169, atau kunjungi www.penyakit menular.go.id.
Catatan: Bahan tulisan ini sebagian dari Organisasi Pelaksana World Rabies Day CDC. Gov. Rabies serta ditambah dengan situasi dan data di Indonesia,
RITA KUSRIASTUTI, Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit & Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang