BANDUNG, KOMPAS.com- Bangunan sekolah darurat dengan kapasitas enam ruang kelas yang berasal dari bantuan Gubernur Jawa Barat terlambat diselesaikan hingga jadwal masuk sekolah, Rabu (30/9) ini. Akibatnya, baru dua kelas yang bisa belajar, sehingga sisanya langsung belajar di rumah setelah usai acara halal bihalal.
Menurut pantauan Kompas, Rabu (30/9), bangunan sekolah darurat di SDN Sukalaksana 2 di Desa Sukamanah, Pangalengan, Kabupaten Bandung sudah rampung 80 persen. Pekerja tengah merampungkan pengerjaannya, sementara siswa belajar di dalam.
Menurut guru kelas VI, Tatang Tajudin, baru ruang kelas VI yang siap dan bisa dipergunakan untuk belajar. Ruang kelas V sedang dipersiapkan. "Untuk hari ini, kegiatan belajar mengajar sampai pukul 11.00 saja," ujar Tatang.
Kepala Desa Sukamanah, Dadang Kurniawan, menuturkan, keterlambatan pengerjaan bangunan sekolah darurat yang terbuat dari bambu ini tidak akan terjadi lagi. Seluruh pekerja akan lembur untuk menyelesaikan pengerjaan sehingga hari Kamis (1/10) besok sudah bisa digunakan belajar.
Sekolah darurat itu merupakan bantuan Gubernur Jabar yang sedang meninjau lokasi gempa, berupa dana sebesar Rp 70 juta. Dadang menjelaskan, biaya pembangunan satu unit sekolah darurat mencapai Rp 12,5 juta dan sisanya akan digunakan untuk pembangunan di lokasi lain.
"Dengan demikian, para siswa tidak perlu lagi belajar di dalam tenda," tegas Dadang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang