Nasrudin Kerap Mengeluh kepada Istri Kedua

Kompas.com - 30/09/2009, 12:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sidang pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen dilanjutkan dengan menghadirkan istri kedua direktur PT Putra Rajawali Banjaran itu yakni Irawati Arienda (39) sebagai saksi. Dalam kesaksian tersebut terungkap bahwa Nasrudin kerap mengeluh soal urusan kantor kepada istri keduanya itu.

"Aduh capai di kantor, banyak urusan," ungkap Irawati, mengenang kata-kata suaminya dalam kesaksiannya di PN Tangerang Banten, Rabu (30/9). Namun, terhadap keluhan itu, ia mengaku diam, mendengarkan, dan berdoa saja karena memang sudah sepakat dengan suaminya tidak akan membawa masalah kantor ke rumah.

Mantan pragawati itu mengatakan , keduanya sudah punya agreement atau kesepakatan untuk tidak membawa masalah pekerjaan dan kantor ke rumah. Alasannya, menurut perempuan cantik berkulit putih itu, Nasrudin adalah sesosok pria yang temperamen.

"Masalah kantor dan usaha kantor jangan dibawa ke rumah. Ada sedikit... marah. Saya mengurus 2 anak saja sudah capai," ujar Irawati yang berambut hitam panjang itu.

Di depan sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakin Asnun, ia mengaku rumah tangganya baik-baik saja. "10 tahun banyak mengalah jadi rukun-rukun saja karena saya banyak mengalah," paparnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau