Regenerasi Tidak Bisa Dipaksakan

Kompas.com - 30/09/2009, 17:30 WIB

JAKARTA, Kompas.com - Ada kesamaan antara Yayuk Basuki, Taufik Hidayat, Martina Navratilova dan Dara Torres ketika dikatakan telah mencapai ujung dari karir mereka yang gemilang. Mereka merasa masih mampu.

Tak ada yang memaknai keputusan kembalinya Martina Navratilova di usianya yang ke-46 beberapa tahun yang lalu. Walau kemudian ia tetap bisa menjadi juara Wimbledon di nomor ganda campuran berpasangan dengan petenis India, Leander Paes, beberapa kali, tak ada satu pun orang yang memaknai hal itu.

Bahkan banyak yang beranggapan Navratilova hanya ingin membuat sensasi. Navratilova dibesarkan di dunia tenis, terlahir di sebuah rumah yang memiliki lapangan tenis. Sehari sebelum ia memutuskan mengakhiri kariernya di dunia tenis, ia berjalan menyusuri rumput-rumput Wimbledon di kegelapan malam, mengulangi  apa yang telah dilakukannya di All England Tennis Lawn Club  sepanjang kariernya. Ia merenung, menangis, hatinya tak ingin meninggalkan dunia tenis yang begitu dicintainya, namun usia dirasakan telah memanggilnya untuk berhenti.

Namun perasaan itu berubah beberapa tahun kemudian. rasa cinta yang besar kepada olah raga tenis membuatnya tak tahan dan ingin kembali. Ia kembali di nomor ganda, dan hasilnya sangat menggembirakan. Namun, banyak orang yang menganggap ini hal yang biasa-biasa saja, tapi tentu tidak untuk diri Navratilova sendiri. Ia menjuarai ganda campuran turnamen grand slam Wimbledon 2003 bersama Leander Paes dalam usia 46 tahun 261 hari.

Kecintaan dengan tenis ini pula yang telah menggiring Yayuk Basuki untuk kembali beraksi. Yayuk merupakan anak ajaib tenis Indonesia pada 1990-2004. Sebagai petenis pro, Yayuk pernah menempati peringkat 19 WTA.  Namun usia memang  telah ‘memaksanya’ untuk berhenti pada 2004 saat usia 34 tahun.  Ia absen dari tur dan lebih banyak mencurahkan waktu untuk melatih mau pun mendampingi beberapa pemain muda seperti Angelique Widjaja.

Namun seperti juga Navratilova, kecintaannya pada tenis lebih dari apa pun. Pada 2008, Yayuk memutuskan kembali ikut tur. Ia berpasangan dengan Romana Tedjakusuma untuk kembali tur mengarungi pertandingan demi pertandingan di beberapa negara. Yayuk pun tak hanya berpasangan dengan Romana, di musim Lebaran ini ia berpasangan dengan petenis Taiwan untuk bertanding di beberapa kota di Jepang. Kembali meninggalkan hiruk pikuk Jakarta, kembali merasakan berlebaran tidak bersama keluarga. “Ini tahun kedua aku nggak Lebaran bareng keluarga, tahun lalu aku di Amerika,” kata Yayuk melalui fasilitas facebook.

Yayuk tak lagi seperti dulu. Kini ia telah memiliki keluarga, tidak berlebaran dengan keluarga berarti ia tak berkumpul dengan anak dan suaminya di hari kemenangan tersebut. Namun, demi kecintaannya pada tenis telah membuatnya berani memutuskan hal itu. “Jelas kangen dong sama anak dan bojo, tapi aku mau coba  tur sendiri ternyata bisa. Karena banyak petenis-petenis muda sekarang yang nggak kuat tur sendirian. Spoil  banget, makanya kita nggak maju-maju. ”

“Saya tur lagi dengan biaya sendiri, keluar uangnya memang cukup banyak tapi apa yang didapat untuk saya lebih dari apa yang telah saya keluarkan. Kecintaan dan kesehatan kan nggak bisa dibeli dengan uang,” tutur Yayuk. Namun, ada sesuatu yang menggelitik dan jiwa kompetisinya memberontak jika melihat  perkembangan tenis nasional. “Saya ingin melecut yang muda-muda dan sekaligus memotivasi mereka,” kata Yayuk yang kini berusia menjelang 38 tahun.

Walau dikatakan oleh Yayuk, ia belum siap untuk bermain tunggal karena banyak background injured sehingga dalam turnya ia hanya bermain ganda. “Daripada main tunggal tapi hanya bertahan enam bulan lebih baik bermain ganda tapi bisa bertahan lebih dari enam bulan,” yang menegaskan bahwa kembalinya ke tur  kali ini benar-benar untuk having fun sekaligus untuk kesehatan.

Ia lalu menceritakan bagaimana luar biasanya Kimiko Date, petenis Jepang seangkatannya yang pernah menjadi petenis nomor empat dunia, bisa menjadi juara pekan lalu di Korea saat comeback di usianya yang ke-39.

Contoh yang lebih sensasional adalah kemenangan Kim Clijsters di seri Grand Slam AS Terbuka lalu. Ia berhenti karena cedera, menikah dan punya anak. Setahun lebih usai melahirkan ia memutuskan kembali ke tur WTA. Tiga kali mengikuti pemanasan di Olympus Series dan mendapat wild card di AS Terbuka langsung juara. Usianya memang masih 26 tahun, tapi mengingat cedera serius yang dialaminya dan usai melahirkan pula, penampilan Clijsters sungguh luar biasa.

“Usia tampaknya tidak lagi menjadi ukuran,” kata Yayuk lagi. Tapi, faktor komitmen, kecintaan dan  tanggungjawab adalah faktor yang paling penting, kata Yayuk lagi. Hal-hal ini menjadi kekuatan yang menjadi luarbiasa jika digabungkan dengan kelebihan pengalaman dan kematangan mental yang belum dimiliki oleh petenis-petenis muda.

Keberhasilan Kim Clijsters menghalau kekuatan petenis-petenis muda Eropa Timur dan kepiawaian Williams bersaudra memang membuat para ‘mantan’ petenis lain menjadi ingin mengukur kemampuannya. Misalnya saja keputusan Justine Henin untuk kembali. Apalagi, di masa jayanya  prestasi Henin lebih baik dari Clijsters. Petenis asal Belgia ini memang setahun lebih tua dari Clijsters, namun ia belum pernah melahirkan.
                                                           

                                                         **********

Usia memang telah memaksa atlet untuk berhenti berkarier menjadi atlet. Di cabang tenis, sebenarnya banyak petenis yang masih eksis tanpa pernah lagi melihat usianya. Kita tengok di nomor ganda, Leander Paes dan Mahesh Bhupati, keduanya asal India, memang berkarier tenis khusus untuk ganda hingga kini di usianya yang ke-36 tahun. Keduanya pun menjadi petenis elite yang masuk lima besar dunia di peringkat dunia. Paes, bahkan, bersama petenis Republik Ceko, Lukas Dlouhy menjuarai ganda putera AS Terbuka pertengahan September lalu.

Di bagian putri ada Rennae Stubbs petenis asa Australia yang di masa tur lalu adalah  sahabat karib Steffi Graf. Stubbs yang usianya menjelang 40 tahun masih terus bertanding di nomor ganda dan di AS Terbuka lalu  berhasil mencapai semifinal. Kini ia di peringkat empat dunia.

Lalu ada Lisa Raymond yang lebih tua dari Stubbs. Bahkan, Raymond yang dikenal sebagai petenis spesialis ganda yang unik masih menjadi salah satu andalan di Tim Piala Fed AS. Raymond juga masih masuk dalam deretan elite dunia.

Petenis-petenis ‘berumur’ putra dan putri ini, kemudian akan bergabung di nomor ganda campuran. Mereka tetap juga menjadi pasangan yang disegani di nomor ganda campuran.

Di cabang renang, kita mengenal perenang berusia 41 tahun yang masih mampu meraih medali di Olimpiade Beijing lalu. Memang, tak banyak nomor yang diikutinya namun Dara Torres asal AS ini telah menunjukkan bahwa usia bisa dilawan. Dan kemungkinan besar, seperti yang dikatakan oleh Yayuk, perlawanan itu dilakukan lewat komitmen dan tanggungjawab. Di Olimpiade lalu Torres meraih perak di nomor 50 meter gaya bebas dan dua nomor estafet.
 
Dara Grace Torres lahir 15 April 1967. Ia menjadi perenang AS pertama yang terjun dalam lima olimpiade dari 1984, 1988, 1992, 2000 dan 2008. Dengan tiga perak di Beijing, Torres telah memenangi 12 medali olimpiade. Di Olimpiade Sydney 2000, ia meraih lima medali dalam usia 33 tahun dan menjadi perenang tertua yang saat itu berlomba. Setelah itu, Torres memutuskan gantung goggles untuk berkonsentrasi pada keluarga.

Namun kejutan belum habis dari Torres. Pada usia 40 tahun, Agustus 2007 ia memutuskan ikut berlomba di kejurnas AS di Indianapolis. Ini dilakukan hanya 15 bulan setelah kelahiran anaknya yang pertama. Hasilnya, Torres meraih medali emas di nomor 100 meter gaya bebas dan ikut dalam seleksi tim AS ke olimpiade Beijing.

Bagi Torers selalu ada yang memanggilnya di kolam renang. "Bagi saya merasakan atmosfer lomba dan persaingan  merupakan bagian dari hidup," kata Torres.  Ia juga tidak canggung berlatih bersama para perenang yang  usianya jauh lebih muda dari dirinya. "Menyenangkan sekali berlatih dan berlomba dengan para perenang yang layaknya pantas jadi  anak saya. Tetapi kami disatukan dengan semangat yang sama, tidak mau kalah."

Torres tidak memberi target batas usia untuk berlomba. Menurutnya selama ia mampu bersaing, ia akan tetap berada di kolam renang. "Saya hanya berharap para perenang muda itu mampu mengambil pelajaran dari apa yang saya lakukan untuk terus berlatih tanpa mengenal usia."


                                                                          ***********

Sementara bagi maestro bulutangkis Indonesia, Taufik Hidayat, usia bukanlah segalanya.  Taufik yang pernah mengantungi seabrek gelar seperti juara dunia 2005 serta meraih meraih medali emas olimpiade  Athena 2004 sempat terpukul ketika diminta mengundurkan diri dari pelatnas Cipayung, Jakarta pada awal 2009.  Taufik yang baru berusia 28 tahun dianggap sudah sampai pada pengujung karirnya setelah belasan tahun mendiami pelatnas Cipayung.

"Ketika itu saya merasa seperti ada yang hilang dari hidup saya," kata Taufik saat menceritakan perasaannya meninggalkan pelatnas Cipayung.  Ia mengaku masih mampu bersaing di tingkat dunia. "Untuk ukuran pelatnas, saya merasa masih mampu mengalahkan semua pemain yang ada seperti Sony (Dwi Kuncoro) mau pun Simon (Santoso). Jadi saya tidak mengerti mengapa saya harus keluar," kata Taufik sesaat setelah meninggalkan pelatnas, Januari 2009.
 
Namun dengan keyakinan masih memiliki kemampuan berasing, serta didukung kemmampuan finansial, Taufik memutuskan menjadi pemain profesional murni. Ini masih merupakan pilihan yang langka diambil oleh mantan pemain pelatnas, mengingat selama ini mereka tidak dibekali kemampuan mengatur keuangan sendiri. Biasanya para pemain eks pelatnas, merasa karirnya memang sudah habis, kemudian beralih profesi menjadi pelatih atau menjadi pemain tar-kam, memperkuat klub-klub kecil.

Pilihan Taufik ternyata tidak salah. Ia justru mencapai hasil gemilang seperti menjadi juara di turnamen grand prix gold di India atau pun menjadi runners-up di turnamen Super Series seperti Indonesia Terbuka serta Jepang Terbuka. Taufik bahkan merupakan pebulu tangkis Indonesia dengan peringkat terbaik BWF,  di atas dua pemain utama pelatnas, Sony Dwi Kuncoro dan Simon Santoso mau pun pebulu tangkis klub PB Djarum, Andre Kurniawan Tedjono.

Taufik mengaku tidak pernah bermaksud melecehkan pelatnas Cipayung. Ia hanya ingin menunjukkan  bahwa  proses regenerasi seharusnya dilakukan dengan alami saat seorang pemain mampu meningkatkan permainannya. "Tentu saya kecewa bila sampai saat ini para pemain yang lebih muda belum mampu mengalahkan saya," kata Taufik usai mengalahkan Sony Dwi Kuncoro di Indonesia Open Super Series, Juni lalu.

                                                                  *********

Mantan perenang nasional, Richard Sambera juga mengaku kecewa dengan sulitnya  atlet  muda yang memiliki motivasi tinggi untuk menjadi juara. "Tidak hanya di renang, atlet cabang lainnya saya lihat atlet cepat merasa puas," kata Richard.

Sampai sekarang, Richard yang kelahiran 19 Desember 1971 ini masih  memegang rekor nasional untuk nomor 50, 100 dan 200 meter gaya bebas. Richard yang baru memutuskan mundur dari timnas  pada 2007 lalu, merupakan salah satu perenang yang memiliki rentang prestasi yang cukup panjang antara 1980-an sampai 2000-an.

Ia mewakili Indonesia di berbagai ajang internasional seperti SEA Games sejak 1989 dan Olimpiade 1988, 1996 dan 2000. Di arena SEA Games ia bahkan secara rutin menyumbangkan medali emas, baik melalui nomor individual mau pun relay.

Meski begitu, Richard bukanya tidak menuai kecaman. Ia dianggap tidak tahu diri dan tidak mau memberi kesempatan kepada perenang-perang muda untuk bersaing di ajang nasional dan internasional.  Pada 2007, Richard memutuskan mundur dari timnas karena merasa sudah "lebih dari waktunya" dan  memberi kesempatan kepada perenang muda..

"Saya bukannya tidak mau memberi kesempatan atau ingin menunjukkan sesuatu kepada yang muda. Saya hanya merasa, Indonesia belum memiliki perenang yang representatif untuk bersaing di ajang internasional," kata Richard yang kini menekuni dunia jurnalistik. "Kebanyakan puas dengan hanya menjadi juara di tingkat nasional."

Seperti juga Yayuk, Martina, Dara Torres dan Taufik, Richard  tampaknya  memegang prinsip olah raga sejati. Regenerasi tidak bisa dipaksakan agar yang muda mau berusaha mencapai kematangan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau