Warga Padang Tenang Setelah Tak Ada Tsunami

Kompas.com - 30/09/2009, 20:09 WIB

MEDAN, KOMPAS.com — Warga Kota Padang mulai merasa tenang setelah Satkorlak setempat menginformasikan secara luas kepada masyarakat bahwa tsunami tidak terjadi menyusul gempa berkekuatan 7,6 SR pada pukul 17.16 WIB.

Warga sempat berhamburan keluar rumah, kantor, dan gedung lainnya, dan lari ke arah kawasan pabrik Semen Padang, Indarung, yang berada pada dataran tinggi sehingga membuat jalanan macet. Namun, banyak yang kembali ke rumah mereka setelah mendengar pengumuman tersebut.

Wartawan senior di Padang, Hasril Chaniago, yang dihubungi dari Medan mengatakan, dampak akibat gempa itu belum diketahui secara menyeluruh, termasuk korban jiwa dan kerugian lainnya meski banyak bangunan yang ambruk di beberapa lokasi.

Sejumlah bangunan pemerintahan, seperti kantor Dinas Pendapatan Daerah dan Pekerjaan Umum di kawasan Jalan Khatib Sulaiman tampak ambruk. Kaca-kaca dan dinding kantor pusat Telkom di Jalan KHA Dahlan juga hancur, bahkan hubungan telepon dari dan ke ibu kota Sumbar itu sempat terputus.

"Sinyal telepon seluler saja baru muncul dan Anda orang pertama yang menelepon saya karena pemancar sempat tidak berfungsi akibat goncangan gempa dan terputusnya aliran listrik, sedangkan kondisi fasilitas telekomunikasi lain belum tahu keadaannya karena masyarakat tampak masih panik mencari tahu keberadaan keluarga mereka," ujarnya.

Sejumlah gedung di kawasan Air Tawar juga mengalami kerusakan berat, seperti bangunan minimarket, Suka Fajar, Capella, sedangkan gedung Perwakilan BPKP Sumbar juga rusak, tetapi Rumah Bagonjong, sebutan untuk Kantor Gubernur Sumbar, tampaknya terhindar dari kehancuran.

Bangunan kantor atau rumah-rumah warga kota yang tidak bertingkat tampaknya masih banyak yang aman, tetapi di kawasan sekitar atau pinggiran kota belum terpantau karena suasana ataupun informasinya masih simpang siur.

Salah seorang warga asal Minang di Medan mengatakan, dampak gempa di kampungnya, di Sumani, Solok, tidak membuat warga panik, tetapi di lokasi lain belum tahu dan banyak juga warga yang sedang dalam perjalanan pulang dari sawah dan ladang yang tidak tahu terjadinya gempa.

Sebuah keterangan menyatakan, rasa cemas yang besar warga Padang muncul bila terjadi gempa adalah jika disusul tsunami karena itu warga agak lega setelah petugas dengan cepat atau sekitar 30 menit setelah goncangan gempa langsung diberitahu tidak bakal ada tsunami.

Sebagian besar wilayah Kota Padang berada di bibir pantai dengan ketinggian hanya beberapa meter dari permukaan laut, dan gempa dalam beberapa tahun terakhir sudah berulang kali mengguncang kota tersebut hingga membuat warga lebih waspada, kata seorang warga Medan yang baru mengunjungi kota itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau