Guncangan Gempa Paling Terasa di Pariaman

Kompas.com - 30/09/2009, 21:20 WIB

MEDAN, KOMPAS.com — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat gempa bumi berskala 7,6 skala Richter paling dirasakan di wilayah Kabupaten Padang Pariaman. Skala kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa atau modified mercalli intensity (MMI) tercatat paling besar terjadi di Padang Pariaman, yakni VII-VII MMI.

Menurut Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah I Medan Hendra Suwarta, gempa bumi terjadi pada pukul 17.16 WIB dengan pusat gempa di 0,84 lintang selatan dan 99,65 bujur timur, dan berada pada kedalaman 71 kilometer dari permukaan laut. Pusat gempa berada lebih kurang 57 kilometer barat daya Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Intensitas gempa paling besar dirasakan di Pariaman sebesar VII-VIII MMI. Pada skala ini biasanya banyak rumah yang roboh atau cerobong asap jatuh. "Hanya rumah dengan konstruksi tahan gempa yang bisa tahan dari kerusakan," ujar Hendra di Medan, Rabu (30/9).

Berdasarkan catatan BMKG Wilayah I Medan, gempa terasa di Padang hingga V-VI MMI, Natal (Kabupaten Mandailing Natal) III-IV MMI, Pekanbaru II-III MMI, Medan dan Sidikalang I-II MMI.

"Dari catatan kami, gempa bumi ini juga terasa hingga Johor Baru Malaysia dan Singapura. Bahkan gempa terasa hingga ke Jakarta, terutama di lantai-lantai atas bangunan," kata Hendra.

BMKG juga mencatat, terjadi gempa susulan berkekuatan 6,2 skala Richter pada pukul 17.38 WIB. Sampai sekarang sudah banyak menurun kekuatan gempa susulannya, katanya.

Menurut Hendra, gempa di perairan laut sebelah barat Pulau Sumatera kerap terjadi akibat pertemuan dua lempeng besar, Indo Australia dan Eurasia. Gempa di perairan laut Pariaman ini juga dipicu oleh pertemuan lempeng Indo Australia dan Eurasia. Kedua lempeng ini bergerak terus. Belum ada teknologinya kapan pergerakan lempeng ini menimbulkan gempa. "Masyarakat hanya bisa mengantisipasi dengan mendirikan bangunan dengan konstruksi tahan gempa, menghindari kemungkinan terjadinya gempa di waktu yang akan datang," kata Hendra.

Tim BMKG Wilayah I Medan, Rabu sore, langsung berangkat ke Padang untuk ikut membantu memantau aktivitas kegempaan.

Hendra menuturkan, beberapa stasiun BMKG masih belum bisa terpantau mengingat sulitnya akses telekomunikasi. Sampai sekarang kami masih belum tahu berapa besar kekuatan gempa yang terasa di Pulau Mentawai. Padahal, wilayah tersebut juga cukup dekat dengan pusat gempa, katanya.

Selain itu, menurut Hendra, Tim BMKG Wilayah I Medan juga akan ikut membantu BMKG setempat menenangkan masyarakat. Hendra mengakui, kepanikan terjadi di sejumlah wilayah dan disertai isu yang cukup menyesatkan masyarakat. "Kami mendapat laporan dari Pulau Simeuleu bahwa warga di sana resah karena beredar kabar akan terjadi tsunami besar pada malam hari. Padahal, gempa ini tak berpotensi tsunami karena kedalamannya cukup jauh dari permukaan laut," ujar Hendra.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau