PADANG, KOMPAS.com - Pascagempa di Kota Padang, Rabu kemarin, ada sekitar 200 warga mendatangi Radio Republik Indonesi (RRI) Padang mencari tahu keberadaan sanak saudara mereka yang belum diketahui keberadaannya.
Sebelumnya, Wali Kota Padang Fauzi Bahar telah menetapkan RRI Padang sebagai posko informasi pencarian warga yang hilang.
Fauzi Bahar juga memerintahkan jajarannya untuk segera menggunakan seluruh alat berat yang ada untuk mempemudah proses evakuasi. Namun, demikian 80 unit alat berat yang ada di daerah tersebut masih dirasakan kurang, mengingat jumlah gedung yang runtuh mencapai ratusan.
Maka dari itulah, Wali Kota Padang meminta bantuan tambahan alat berat dari daerah lain untuk mempercepat proses evakuasi warga yang masih terjebak reruntuhan.
Padamnya aliran listrik ditambah hujan deras yang mengguyur Kota Padang sejak sore hingga malam hari semakin mempersulit proses evakuasi yang dilakukan gabungan Tim SAR, TNI, Polri, Satpol PP, dan masyarakat.
Tiga rumah sakit di Kota Padang, yakni Rumah Sakit M Jamil, Rumah Sakit Tentara Ganting, dan Rumah Sakit Yos Sudarso yang juga rusak akibat gempa tetap menerima korban gempa yang berhasil dievakuasi.
Hingga pukul 03.30 WIB tercatat 24 korban meninggal di Rumah Sakit M Jamil, 23 korban meninggal di Rumah Sakit Tentara Ganting, dan 22 korban meninggal di Rumah Sakit Yos Sudarso.
Operasional rumah sakit sendiri dapat terus berlangsung dengan menggunakan genset. Namun demikian Kepala Rumah Sakit M Jamil, Zukyat Iskandar mengatakan rumah sakitnya masih membutuhkan genset dan solar untuk dapat terus beroperasi, mengingat aliran listrik masih padam.
Selain genset dan solar, ia juga menegaskan bahwa rumah sakitnya membutuhkan banyak stok darah, carian infus, kain pembalut patah tulang, perbang, dan obat-obatan lainnya. Rumah sakit juga memerlukan tambahan tenda serta tempat tidur untuk pasien.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang