Ratusan Warga Padang Pariaman Bertahan Perbukitan Lubuk Alung

Kompas.com - 01/10/2009, 18:25 WIB

MEDAN, KOMPAS.com - Ratusan warga Sungai Rambah, Kecamatan Sungai Limau, Kabupaten Padang Pariaman, Sumbar, yang rumahnya hancur akibat gempa berkekuatan 7,6 skala richter (SR), Rabu saat ini masih bertahan mengungsi ke Lubuk Alung (kawasan perbukitan).

 Warga yang kehilangan tempat tinggal itu ditampung di sejumlah  rumah-rumah penduduk, balai desa dan sebagian lagi di tenda-tenda yang didirikan oleh pemerintah daerah setempat, kata warga Desa Sungai Rambah, Agus Tanjung (38) yang menghubungi keluarganya Rizal (43) di Medan, Kamis (1/10).

Menurut dia, rumah warga di Desa Sungai Limau atau sekitar lebih  kurang 28 km dari Lubuk Alung, seluruhnya roboh dan tidak bisa ditempati lagi, maka seluruh masyarakat terpaksa pindah ke desa lain yang tidak terkena goncangan gempa.

"Saya bersama tiga orang anak dan ibu harus mengungsi ke tempat lain, karena rumah peninggalan dari nenek yang telah berusia puluhan tahun itu rata dengan tanah," ujar Agus yang meneteska air mata saat  bertelpon dengan saudaranya yang tinggal di Medan.

Agus menjelaskan, saat terjadinya gempa yang cukup kuat itu, dia  bersama anak-anaknya lagi berkumpul dan juga didampingi andeh (uwak) Hj Ratna (63) warga Sibolga, Sumut yang sudah satu minggu berada di kampung.

Andeh Hj Ratna berada di Desa Sungai Rambah itu, untuk melihat adiknya Upik Duku (50) yang akan berangkat ke Tanah Suci Makkah, pada 23 Oktober 2009. Namun, tidak berapa lama rumah yang kami tempati itu, tiba-tiba seperti ada orang yang "menghoyak" atau menggoyang, sehingga  kami lari berhamburan untuk menyelamatkan diri ke luar rumah agar tidak  tertimpa reruntuhan.

"Dengan berlari ke luar rumah, maka saya dan anak-anak serta yang ada di dalam rumah itu selamat dan tidak ada yang mengalami luka-luka. Alhamdulillah Allah SWT masih menolong dan melindungi saya,  kejadian ini tidak pernah akan dilupakannya," kata Agus.

Dia menjelaskan, sebelumnya pihak keluarga yang ada di Padang, Medan, Jakarta, Pekanbaru  maupun di Sibolga menganggap  dirinya ikut tertimpa reruntuhan bangunan. Apalagi, sejak kejadian gempa itu, Rabu sore, alat komunikasi terputus total dan tidak dapat menghubungi sanak dan famili yang ada di perantauan.

"Alhamdullilah, saluran komunikasi saat ini sudah mulai agak lancar,  kendati masih terputus-putus serta suaranya kurang begitu jelas," katanya.

Gempa terjadi di Padang, Sumbar, Rabu (30/9) pukul 17.16 WIB  berkekuatan 7,6 SR menghancurkan ribuan bangunan, ratusan korban jiwa, merusakkan gedung perkantoran, pusat perbelanjaan dan jalan  mengalami retak-retak.

Pusat gempa tersebut berada sekitar  0,84 Lintang Selatan dan 99,65  Bujur Timur dengan kedalaman mencapai 71 km di dasar laut dan 57 km arah Barat Daya, Pariaman.

Gempa yang cukup kuat itu tidak hanya dirasakan di Kota Medan, Jakarta, Palembang, Jambi, Lampung, Bengkulu, Batam, Pekanbaru, tetapi juga di negara jiran Malaysia dan Singapura.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau