Warga Mukomuko di Pesisir Bengkulu Tak Berani Tidur di Rumah

Kompas.com - 01/10/2009, 22:22 WIB

BENGKULU, KOMPAS.com - Sebagian warga Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, yang berjarak 270 kilometer dari Kota Bengkulu mulai mengungsi ke tempat yang disediakan pemerintah setempat ketika malam hari.

"Kami mulai mengungsi ketika malam hari karena masih trauma  terjadi gempa besar di Sumatra Barat dan Jambi karena getarannya sangat dirasakan kencang sekaligus antisipasi bila terjadi tsunami," kata Iwan, salah satu warga Kelurahan Mukomuko, kecamatan Mukomuko yang mengungsi, Kamis (1/10).

Dia mengatakan, sebagian warga masih trauma bila terjadi gempa berkekuatan besar dan pernah mengalami hal tersebut pada 4 Juni 2000 dengan kekuatan 7,3 Skala Richter (SR) dan 12 September 2007 berkekuatan 7,9 Skala Richter.

Warga yang mengungsi di tempat yang sudah tersedia seperti di sub pemukiman(SP) 3, SP 6, dan SP 7 merupakan wilayah yang cukup jauh dari pantai.

Salman, salah satu warga yang mengungsi di SP 3 mengungkapkan, tempat tersebut aman dan cukup jauh dari pantai yang berjarak hanya lima kilometer.

 "Kabupaten Mukomuko merupakan daerah pesisir yang cukup dekat dengan laut yang berjarak hanya 30 meter dari rumah penduduk dan bila terjadi hal yang diinginkan sulit untuk menyelamatkan diri," ujarnya.

Tempat yang telah disediakan tersebut merupakan lapangan untuk berolahraga yang dapat menampung ratusan warga yang mengungsi.

Sebagian warga yang berada di 13 kecamatan terutama di pusat Ibu kota kabupaten merupakan wilayah yang datar dan ketika terjadi gempa di atas 6,5 Skala Richter mulai mengungsi.

Amdani, salah satu warga Desa Pasar Sebelah, Kecamatan Mukomuko, mengatakan ketika terjadi gempa di Sumbar pemerintah setempat dapat menenangkan warga dengan memberikan informasi menggunakan kendaraan roda empat di sepanjang pesisir bahwa gempa itu tidak berpotensi terjadi tsunami.

"Setiap terjadi gempa berkekuatan besar petugas dapat menenangkan warga agar tidak panik dan selalu tetap waspada dengan menggunakan pengeras suara," ujarnya.

Hingga Kamis malam beberapa warga mulai mendirikan tenda secara swadaya bersama pengungsi lainnya dan menumpang di rumah masyarakat setempat.   

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau