BENGKULU, KOMPAS.com - Sebagian warga Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, yang berjarak 270 kilometer dari Kota Bengkulu mulai mengungsi ke tempat yang disediakan pemerintah setempat ketika malam hari.
"Kami mulai mengungsi ketika malam hari karena masih trauma terjadi gempa besar di Sumatra Barat dan Jambi karena getarannya sangat dirasakan kencang sekaligus antisipasi bila terjadi tsunami," kata Iwan, salah satu warga Kelurahan Mukomuko, kecamatan Mukomuko yang mengungsi, Kamis (1/10).
Dia mengatakan, sebagian warga masih trauma bila terjadi gempa berkekuatan besar dan pernah mengalami hal tersebut pada 4 Juni 2000 dengan kekuatan 7,3 Skala Richter (SR) dan 12 September 2007 berkekuatan 7,9 Skala Richter.
Warga yang mengungsi di tempat yang sudah tersedia seperti di sub pemukiman(SP) 3, SP 6, dan SP 7 merupakan wilayah yang cukup jauh dari pantai.
Salman, salah satu warga yang mengungsi di SP 3 mengungkapkan, tempat tersebut aman dan cukup jauh dari pantai yang berjarak hanya lima kilometer.
"Kabupaten Mukomuko merupakan daerah pesisir yang cukup dekat dengan laut yang berjarak hanya 30 meter dari rumah penduduk dan bila terjadi hal yang diinginkan sulit untuk menyelamatkan diri," ujarnya.
Tempat yang telah disediakan tersebut merupakan lapangan untuk berolahraga yang dapat menampung ratusan warga yang mengungsi.
Sebagian warga yang berada di 13 kecamatan terutama di pusat Ibu kota kabupaten merupakan wilayah yang datar dan ketika terjadi gempa di atas 6,5 Skala Richter mulai mengungsi.
Amdani, salah satu warga Desa Pasar Sebelah, Kecamatan Mukomuko, mengatakan ketika terjadi gempa di Sumbar pemerintah setempat dapat menenangkan warga dengan memberikan informasi menggunakan kendaraan roda empat di sepanjang pesisir bahwa gempa itu tidak berpotensi terjadi tsunami.
"Setiap terjadi gempa berkekuatan besar petugas dapat menenangkan warga agar tidak panik dan selalu tetap waspada dengan menggunakan pengeras suara," ujarnya.
Hingga Kamis malam beberapa warga mulai mendirikan tenda secara swadaya bersama pengungsi lainnya dan menumpang di rumah masyarakat setempat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang