Festival Tarian Rakyat Reog Penyangga Kepariwisataan

Kompas.com - 02/10/2009, 01:43 WIB

BOYOLALI, KOMPAS.com--Festival Tarian Rakyat Reog dikembangkan masyarakat lereng Gunung Merbabu, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, sebagai penyangga kepariwisataan Solo-Selo-Borobudur (SSB).

Camat Cepogo,  Arif Wardianta, di Boyolali, Rabu, mengatakan, festival itu diselenggarakan dua tahun sekali untuk mengenalkan lebih dekat tarian rakyat kawasan Merbabu kepada wisatawan baik domestik maupun mancanegera.

"Cepogo merupakan daerah penyangga tujuan pariwisata ke SSB. Cepogo mengandalkan kesenian tari rakyat dan kerajian kuningan Tomang," katanya.

Sebanyak 21 kelompok kesenian dari 15 desa di lereng Merbabu mengikuti festival itu.

Ia menjelaskan, setiap desa mengirimkan wakilnya paling banyak dua kelompok kesenian rakyat seperti tarian reog, kuda lumping, dan rebana dalam festival itu.

Kelompok kesenian rakyat dari Dusun Sidosari, Desa Sukabumi, Cepogo, yang ikut dalam event tersebut, katanya, pernah merebut juara satu tingkat kabupaten.

Festival itu terlihat meriah dengan diawali prosesi jalan kaki para seniman sejauh sekitar 500 meter dari Lapangan Mliwis melewati Pasar Cepogo dan berakhir di halaman kantor kecamatan setempat.

Masyarakat tampak menyaksikan prosesi tersebut dari tepi kanan dan kiri jalan yang dilalui para seniman.

Peserta festival yang tampak mengenakan kostum berwarna-warni secara mencolok dan berdandan seperti seorang prajurit zamannya Kerajaan Mataran itu berjalan sambil menari mengikuti musik tradisional Jawa, gamelan.

Setiap peserta menampilkan gerakan tarian yang berbeda-beda. Setiap kelompok kesenian terlihat secara kompak menyuguhkan tarian tradisionalnya sedangkan para penonton bertepuk tangan.

Pada kesempatan itu ia juga mengatakan, wilayah itu kaya terhadap potensi tarian rakyat, wayang orang, dan ketoprak.

Berbagai kelompok kesenian tradisional setempat, katanya, perlu pembinaan secara intensif agar menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke kawasan itu. "Cepogo sebagai daerah penyangga SSB layak dikembangkan," katanya.

Tejo, seorang warga setempat mengatakan, festival itu sebaiknya dilakukan setahun sekali karena mendapat sambutan antusias dari warga.

"Mereka (para penari,red.) melakukan gerakan akrobat yang kompak sehingga warga terhibur dan bahkan tidak merasakan panas matahari siang ini," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau