KOMPAS.com - Jika ekonomi hendak pulih, kucuran kredit juga harus berangsur pulih. Masalahnya, kucuran kredit itulah yang melempem. Ini jugalah yang diingatkan oleh Jose Vinals, Direktur IMF bidang moneter dan pasar modal, pada sebuah seminar di Istanbul, Turki, Rabu (30/9).
Perbankan sedang kekurangan modal, demikian dikatakan Vinals. Hal ini tidak mendukung aliran kredit seperti sedia kala. ”Kita memang sedang menuju pemulihan ekonomi dari krisis, tetapi masih ada hambatan yang belum bisa dihilangkan,” katanya.
”Jika pertanyaannya adalah apakah perbankan memiliki cukup modal untuk mendukung pemulihan, kami yakin jawabannya adalah ’tidak’,” kata Vinals.
Mengapa demikian? Dalam Global Financial Stability Report (GFSR) disebutkan perbankan global masih harus mengatasi kerugian 1,5 triliun dollar AS selama periode 2007-2010.
Kerugian itu lebih besar dari jumlah piutang, yang sudah dihapusbukukan sebesar 1,3 triliun dollar AS. Ini artinya, jumlah piutang yang harus dihapusbukukan berpotensi naik.
Aksi penghapusbukuan merupakan istilah pada penghilangan catatan soal piutang dari neraca. Ini bertujuan agar neraca keuangan tidak terlihat merah. Namun, tindakan penghapusbukuan tidak berarti piutang itu tidak akan ditagih lagi, walau hampir bisa dipastikan tidak akan semuanya bisa ditagih lagi.
Jika digabungkan dengan lembaga nonbank, jumlah penghapusbukuan sudah mencapai 3,4 triliun dollar AS untuk periode yang sama. Ini adalah juga yang cukup dahsyat, atau sekitar 5 persen dari total produksi domestik bruto (PDB) dunia.
Persentase kredit macet yang tergolong masih bagus adalah maksimal 3 persen. Ini menandakan keadaan perbankan global amat parah.
Dari jumlah yang dihapusbukukan oleh sektor perbankan itu, sebanyak 94 persen terjadi pada perbankan Eropa dan AS. Selebihnya terjadi pada industri perbankan di luar kawasan itu.
”Risiko sistemik sudah mereda, tetapi rasa tenang masih jauh jika bicara soal perbankan,” kata Vinals.
Dari 3,4 triliun dollar AS piutang yang dihapusbukukan itu, baik oleh bank maupun nonbank, sekitar 1,3 triliun dollar AS terkait dengan kerugian di bidang sekuritas, atau surat-surat berharga, bukan piutang berupa kredit ke sektor riil.
Hal ini mengonfirmasikan bahwa lembaga keuangan telah berkutat pada aksi-aksi spekulasi di pasar uang, ketimbang mengucurkan kredit ke sektor riil, yang jauh lebih produktif.
Adalah heboh di pasar uang, yang menyebabkan krisis ekonomi global, berupa kepanikan investor. Hal ini sudah terasa di sektor riil berupa anjloknya permintaan riil.
Akibatnya, banyak produk yang tidak terjual dan membuat omzet perusahaan anjlok drastis. Selanjutnya, hal ini memacetkan kredit korporasi sebesar 1,5 triliun dollar AS.
Dari total kerugian itu, porsi terbesar terjadi di AS, episentrum krisis, ketimbang di Inggris dan zona euro, negara-negara pengguna mata uang tunggal euro.
Lepas dari itu, potensi bahaya perbankan tetap besar. Selain dari simpanan nasabah, perbankan dan nonbank mendapatkan pendanaan dari penerbitan surat utang.
Vinals menambahkan, dalam dua atau tiga tahun mendatang, sekitar 1,5 triliun dollar AS utang lembaga keuangan akan jatuh tempo.
Hal ini akan menambah beban berat bagi perbankan Eropa dan AS. Bahayanya, pertumbuhan ekonomi di AS dan Eropa tak prospektif. Lihat grafis di sebelah kanan. Terlihat beban ekonomi lebih condong dirasakan di AS dan Eropa dengan angka pertumbuhan yang negatif atau lebih rendah dari Asia dan kawasan lainnya.
Dalam kondisi perbankan yang terpuruk, ditambah dengan pertumbuhan ekonomi yang buruk, masalah perbankan akan lebih sulit lagi diatasi.
Menimbang pengalaman di masa lalu, dengan penyelesaian atas kehancuran industri perbankan memakan waktu tahunan—ada yang mencapai 20 tahun lebih—bisa dikatakan perbankan Eropa dan AS harus tetap diwaspadai.
Selain AS dan Eropa, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pengembangan Ekonomi (OECD) juga menyetir masalah ekonomi Jepang, yang amat sulit pulih dari krisis. Dengan demikian, kekuatan tradisional ekonomi global sedang sempoyongan.
OECD menyimpulkan ekonomi Jepang sulit pulih karena penduduk yang menua, lebih dari 50 persen berusia di atas 50 tahun. Artinya, tingkat produktivitas menurun. Padahal di sisi lain, produktivitas yang tinggi amat dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Saran bagi Jepang adalah agar pintu masuk bagi modal asing lebih dibuka. Juga disarankan agar para pekerja muda asing lebih diberi akses. Hal ini memerlukan perubahan undang-undang, yang butuh waktu juga.